Senin, 21 Juni 2021

BAPA (GURU TANPA KATA)

BAPA (GURU TANPA KATA) 
------------------------------------------
(senja kampung kinam) 

Setiap orang memiliki sesosok Ayah.  Entah itu Presiden sampai Rakyat Jelata pasti punya satu sosok yang di kagumi,  Dialah Ayah.  Definisi Ayah bagi setiap orang pasti berbeda-beda. entah itu yang lahir dari keluarga miskin hingga yang lahir dari keluarga yang sudah bergelimang harta (berkecukupan).  

Kisah ini berawal di tahun 2008, saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun.  Tumbuh dari keluarga sederhan dari pelosok negeri yang belum mengenal dunia luar,  kami hanya bangga jika malam nanti bapa nyalakan Lampu gas apabila ada minyak tanah. itu sdh lebih dari cukup dan membuat kami merasa bersyukur.  Masa-masa itu sulit di lupakan,  kami jauh dari dunia luar,  guru di sekolah hanya ada dua,  namun semangat belajar sangat tinggi.  

Bapa berkerja di kebun,  sekalian merangkap menjaring ikan di laut.  Sejak kecil,  saya terus mengikutinya.  Hingga suatu ketika, saya pulang bersamanya hampir pukul 9.00 malam.  Malam itu  warga kampung panik,  bapak mendayung dengan perlahan membelah lautan,  gelap gulita,  saya tak melihat apa-apa.  Malam itu dingin,  kayu bakar menumpuk di depan perahu kole-kole (Sampan).  Saya Hanya dengar suara deru ombak di bibir pantai.  Bapa hanya bisa melihat muara melalui instingnya yang tajam, mungkin bapa sudah terbiasa dengan gelapnya malam dan panasnya matahari.  saya duduk berdiam diri dalam perahu kecil itu.  Angin malam perlahan menusuk kulit yang tipis di bungkus baju bapa yang agak tebal.  Bapa terus mendayung,  sesekali ia menyeru "Madi,  jangan banyak bergerak,  perahu ini kecil dan oleng" sambil terus mendayung.  

Tak lama kemudian,  Dari ujung muara dekat kampung,  yang berjarak sekita 800 meter dari kampung saya sudah bisa mendengar suara dari tepi pantai, "Madi.... Oo adi oyaman amipe....(madi kau dengan bapa dimana...  " itu suara panggilan dari warga kampung. Ada beberapa perahu kampung yang berusaha mencari saya dan bapa.  Bapa dari belakang perahu menjawab ucapan itu dengan Suara yang lantang, keras dan panjang "Yuuuu..... " memberi isyarat bahwa kami sudah pulang.  

Mama sudah marah kesal,  apalagi nenek,  tete,  dan keluarga besar.  Mereka semua marah sama bapa.  Malam itu,  hampir sebagian warga kampung berdiri di pinggir pantai menunggu dan mencari saya dan bapa.  Maklum,  sejak dini hari  saya bersama bapa sudah pergi melaut,  mulai dari menjaring ikan,  sampai masuk hutan di salah satu pulau kecil untuk mencari kayu bakar. Malam itu, selain ikan yang kami bawa pulang,  ada kayu bakar dan beberapa kelapa muda yang di bawa dari pantai.  bonusnya hari itu,  saya bersama bapa  di terpa hujan yang lebat, membuat kami menepi di salah satu pantai dan berteduh dari derasnya hujan. Tanpa jaket, bapa rela berikan bajunya.  Badannya yang masih kekar dan berotot membuatnya seperti super hiro. beliau hanya bilang "pakai ini,  jangan lepas. Bapa tidak apa-apa". Bagi saya bapa adalah super hiro. jiwa besar,  pantang menyerah,  dan kerasnya hidup,  membuatnya tidak pernah ada rasa takut dalam dirinya.  Bagi bapa,  pulang harus membawa hasil, entah itu ikan,  sayur,  keladi, asalkan bisa di makan dengan jerih payah dan hasil keringat yang baik dan halal. semua itu ia Lakukan demi keluarga kecilnya.  Hari-hari kulalui dari lingkungan yang keras seperti itu,  saya tumbuh dan besar bersama lingkungan dan alam yang selalu menantang dan penuh tanda tanya.  dan makna dari semua itu mengajarkan banyak hal ketika  saya tumbuh dewasa.  Sifat pantang menyerah dari Bapa mewarisi dan mengalir dalam nadiku.  

Orang-orang di kampung memberikan julukan kepada saya  dengan sebutan "Karfawagak". Entah itu kata dari mana,  saya tidak paham.  Yang jelas,  kata itu menggambarkan seorang anak yang tak bisa lepas dari Ayahnya.  Kemanapun Ayahnya pergi,  dia pasti ikut.  Ya,  julukan itu memang benar.  Di akui atau tidak,  saya tumbuh besar bersama Ayah.Tabiat dan karakter dari Ayah mewarisi sifatku.  Saat di hutan ataupun di laut,  Saya selalu tenang dan merasa bahagia apabila berada di dekatnya.  Hidupku penuh dengan tantangan dan penuh petualangan bersama bapa.  

Saat saya tumbuh dewasa,  saya mulai paham,  bahwa ada sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal: suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi.  Semakin tinggi suhu yang di terimanya,  semakin tinggi tekanan yang di perolehnya. Jika dia bisa bertahan,  tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara.  Keras.  Kokoh.  Mahal harganya.  Itulah pelajaran hidup yang selama ini saya dapat dari bapa.  Beliau bukan motivator hebat,  bukan guru besar,  bukan ustadz dan bukan  pengusaha sukses. Bapa hanya seorang Pria yang sederhana,  hidup dari hasil jerih payah dan kerja kerasnya untuk menafkahi keluarga kecilnya.  hidup bapa ada di hutan,  laut,  badai,  angin,  ombak dan sengatnya matahari.  Bapa adalah seorang petani sekaligus nelayan yang hebat.  Jika di hutan membuat kulit kakinya tebal,  di laut angin dan ombak mempertebal mentalnya.  Bapa adalah super hiro yang pernah saya saksiskan secara langsung. 

Bapa adalah guru tanpa kata,  kepedulian tanpa menuntut,  dan penyayang di kala duka.  Dengan kepedulian dia merawatku siang dan malam,  dengan melihatnya mengais rejeki dia adalah guru tanpa kata,  dengan melihatnya memberi nafkah dia adalah penyayang tanpa harus ia harapkan balasan.  Panggilan hatinya membuat bapa melakukan semua itu.  Hingga saat ini, pelajaran hidup itu masih melekat pada  saya  untuk menjalani hidup penuh dengan kehormatan,  tantangan dan kepedulian.  inilah Bapa,  "GURU TANPA KATA". 

Oleh 

Ismail Weripang

Senin, 14 Juni 2021

Cinta

Cinta

Tak ada tinta untuk melukiskan cinta,  tak ada irama yang semerdu cinta,  definisi cinta begitu sulit untuk di gambarkan.

 Cinta adalah cinta.  Sumber dari segala sumber cinta adalah sang Maha Pemberi Cinta.  

Aku tak mampu melukiskan Adab cinta. Yang Mampu hanya Allah bersama Rasul-Nya.  Saripati cinta dari Allah dan Rasul-Nya lah aku hidup dan mengenal cinta.  

Lalu... 
Ada yang mengatakan cinta itu sakit,  cinta itu rumit,  cinta itu palsu,  cinta tak ada. Aku diam,  lalu bertanya, apakah engkau sudah kembali pada sumber Pemberi cinta?  Mengapa engkau menghakimi cinta?  Bukankah Cinta itu Anugerah terbesar yang kau punya?  Cobalah berfikir,  bagaimana jika engkau hidup tanpa cinta.  

Maka kembalilah pada Maha Pemberi Cinta,  biarlah hidupmu mengalir di atas aliran Cinta.  Jangan hanya satu makhluk kau patahkan Cinta yang Allah Berikan.  

Ismail Weripang

Rabu, 17 Maret 2021

Akal Manusia

MANUSIA 
-------------------
17/03/21

Manusia.  Apa yang terlintas di kepala Anda jika kata "manusia" di sebutkan?  Sebagian orang pasti berkata Makhluk yang diberikan akal oleh Allah SWT.  Allah menciptakan Manusia dimuka bumi karena memiliki kedudukan yang mulia di antara makhluk yang lain.  Apa kemuliaan tersebut?  Ya,  sebagai Khalifah (Pemimpin) dimuka bumi.  

Sebagai makhluk yang memiliki kedudukan yang mulia di Sisi Allah,  maka manusia seharusnya tidak boleh lupa pada amanah yang diberikan Allah kepadanya sebagai Khalifah. Dan sebagai Khalifah,  sudah semestinya manusia mengaplikasikan setiap pikiran, hati dan tindakannya semata-mata dalam bentuk Ibadah kepada-Nya.  

Lalu apa yang membedakan manusia dan makhluk yang lain di muka bumi? Jawabannya adalah "Akal". Allah berikan keistimewaan pada makhluk yang bernama manusia dengan Akal/Pikiran agar dapat membedakan antara baik dan buruk,  Yang Haq dan yang Batil. 

Akal ada pada diri manusia agar mampu membedakan,  siang dan malam,  hitam dan putih, kemudian sebagai alat untuk mengontrol Hawa Nafsu/Syahwat yang ada pada diri manusia, Lalu sebagai proses pengambilan keputusan sebelum bertindak. 

Namun,  terkadang Nafsu yang ada pada diri manusia mampu mengalahkan akal/pikiran dan hati manusia. lalu kemudian Manusia  berbuat seenaknya, yang jauh bahkan lebih hina dari pada hewan.  Inilah pentingnya koneksi antara Akal/pikiran, Hati,  dan tindakan.  Manusia berbuat serakah,  karena Nafsu yang terus menguasai dirinya.  

Oleh karena itu,  kita perlu refleksi,  terus berperang melawan syahwat yang selalu datang menghantui pikiran dan Hati kita sebagai manusia.  Musuh kita sebenarnya adalah diri kita sendiri, dengan bisikan Setan Laknatullah maka Hawa Nafsu terus menghampiri hati dan pikiran kita agar dapat terus  berbuat  tindakan yang tidak kita inginkan.  Ingatlah bahwa,  Manusia hadir dimuka bumi dengan Amanah yang begitu besar,  hadir sebagai Khalifah,  hadir sebagai Hamba yang taat bukan Hamba yang bejat,  hadir sebagai Hamba yang mampu berpikir lalu menggunakan Hati sebagai koneksi untuk bertindak.

Manusia hadir dibumi dengan Ruh,  pikiran,  hati dan jasad.  Manusia hadir dengan sempurna untuk merawat bumi ciptaan Illahi.  Manusia hadir di bumi bukan hanya soal Makan,  minum, bersenang-senang,  Lalu mati.  Lebih daripada itu,  Manusia hadir sebagai Khalifah (pemimpin).

Hidup ini hanya sekali,  maka lakukanlah tugas kita sebagai khalifah,  amalkan sisa usia kita di jalan yang baik dan benar,  pergunakan akal, pikiran, hati dan tindakan kita sebelum bertindak. Jaga dan rawatlah bumi, lalu rawat dan jagalah setiap makhluk yang ada hanya semata-mata mengharapkan Ridho Allah SWT. 

Oleh:
Ismail Weripang

Sabtu, 16 Januari 2021

Antara Hutan, Sawit, lahan dan Duka (Kalimantan Berduka)

Antara Hutan, Sawit,  Lahan,  dan Duka

Kalimantan Berduka.  
*****/*******//////******

Pada masa lalu hutan Kalimantan digerus oleh loging secara membabibuta kemudian beralih menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Sejak tahun 2000 izin pertambangan bertebaran di Kalimantan. Pertambangan terbesar terdapat di Kalimantan Timur. Samarinda sebagai Ibu Kota dikelilingi oleh perusahaan tambang. Sebelum ada UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, dalam satu tahun ada sebanyak 90 izin dikeluarkan oleh Gubernur Kaltim.

Linda Rosalina, Pengkampanye FWI menyampaikan tahun 2009-2013 telah kehilangan hutan sebesar 1,13 juta hektare per tahunnya, hal ini disebabkan exploitasi kayu dari konversi hutan seperti HTI, tambang dan perkebunan kelapa sawit. Dalam Kajian FWI ditemukan deforestasi/kehilangan hutan dalam konsesi perkebunan sawit 500.000 hektar.

Indonesia menjadi pengekspor sawit terbesar hingga memenuhi kebutuhan dunia. “Pulau Kalimantan adalah wilayah terbanyak mengalami kehilangan hutan dalam konsesi sawit seluas 30.327.000 hektar, seluas 3,6 juta hektar pada tahun 2014 perkebunan sawit (Data Dirjen Perkebunan),” paparnya.

Dampak dari pembukaan Lahan secara besar-besaran di kalimantan,  Warga yang menempati sekitarnya merasakan dampaknya dari exploitasi Hasil Alam. Tentu,  bisa di prediksi bahwa dampaknya  saat ini bisa kita rasakan  di awal Tahun 2021. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kondisi terkini bencana banjir di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.

Kabid Humas BNPB, Rita Rosita Simatupang mengatakan, sebanyak 21.990 jiwa terdampak banjir di Kabupaten Tanah Laut. Mereka saat ini sedang mengungsi di lima titik pengungsian.

"6.661 KK yang terdiri dari 21.990 jiwa terdampak banjir. Saat ini mereka sedang mengungsi di 5 titik pengungsian dan masih dalam pendataan kami. Selain itu, 6.346 rumah terendam," katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/1).

Bahkan data yang diperoleh BPost dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Provinsi Kalsel salah satu daerah yang cocok untuk ditanami Sawit. Hingga saat ini, di seluruh provinsi tercatat ada 97 perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Kalsel dengan luasan lahan 423.414 hektare.

Kamis, 14 Januari 2021

Pro Kontra Vaksinasi Di Indonesia

Pro Kontra Vaksinasi Di Indonesia
---------------------------------------------------

 
Proses Vaksinasi terhitung telah dimulai pada Rabu 13/01/21 di awali suntikan Dosis pertama kepada Presiden Joko Widodo dan Sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju jilid II di Istana Merdeka.  Program Vaksinasi rencananya akan di lakukan selama 15 bulan ke depan hingga maret 2022 mendatang.  

Presiden Joko Widodo menyebutkan,  setidaknya 70-80 persen Warga Indonesia atau setara 182,5 juta penduduk harus di suntik vaksin Covid-19. Jumlah itu, katanya untuk mencapai target herd imunity atau kekebalan tubuh dari Virus. 

Di sisi lain,  proses Vaksinasi ini menuai berbagai Pro dan kontra.  Sebut saja Anggota Komisi IX DPR fraksi partai PDIP Ribka Tjiptaning yang menjadi Sorotan publik setelah pernyataannya yang menolak Vaksin Covid-19 dan rela membayar denda karena tidak mau di Vaksin.  Politisi partai PDIP ini bahkan menyebutkan bahwa pemerintah tidak boleh berbisnis dengan rakyat.  

Di tengah keraguan berbagai pihak,  Presiden Joko Widodo keluar sebagai orang pertama Yang di Vaksin. Orang Nomor satu di Indonesia ini berusaha meyakinkan Publik bahwa Vaksin Aman untuk di Konsumsi.  Apapun pro dan kontranya,  pandangan saya selalu menuju pada Fatwa MUI Mengenai Halal Haram Vaksinasi Di Indonesia.  

Terkait dengan Fatwa MUI Nomor: 02 tahun 2021 tentang Produk Vaksin Covid-19, hukumnya Suci dan halal di konsumsi.  ini berarti, sebagai umat Muslim saya tidak perlu lagi ragu dengan Vaksin karena telah di labeli Suci dan Halal.  

Namun, bagaimana dengan Hukum menolak Vaksin?  Di bagian inilah yang paling banyak di soroti publik. Menurut wakil Menteri Hukum dan HAM Prof Edward OS Hieariej, Orang yang menolak Vaksinasi hukumannya penjara dan denda hingga Ratusan Juta Rupiah.  Ia mengacu pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan.  

Aturan itu terdapat pada Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 Yang berbunyi sebagai Berikut :
" Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan masyarakat dipidana penjara paling lama 1 (satu)  Tahun dan/atau pidana Denda paling banyak Rp. 100. 000.000,00 (Seratus Juta Rupiah)". 

Berbeda halnya dengan Perpu Nomor 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan Negara dan Stabilitas System keuangan untuk penanganan Pandemik Covid-19 yang selama ini menjadi dasar untuk setiap program penanggulangan Virus Corona tidak terdapat sanksi ataupun denda bagi yang Menolak Vaksin.  Bahkan belum ada peraturan ditingkat pusat yang mengatur sanksi pidana bagi yang menolak Vaksinasi Covid-19. 

Dari berbagai Pro dan Kontra yang muncul,  ada kesimpulan yang mestinya di tarik agar tidak menimbulakan Protes yang berlebihan di tengah masyarakat.  Pertama,  pemerintah harus betul-betul punya komitmen yang kuat untuk membersamai rakyat memutuskan mata Rantai Covid-19, rakyat membutuhkan kepercayaan saat ini.  
Kedua,  setelah dana Bansos covid-19 yang di korupsi Oleh Mensos sebesar 17 Milyar Rupiah,  Rakyat saat ini membutuhkan pelayanan yang betul-betul punya rasa keadilan. Artinya apa?  Proses Vaksinasi Harus merata, adil dan gratis.  Mengapa?  Inilah cara rakyat menagih janji setelah Uangnya Di embat 17 Milyar Rupiah.  

Terlepas dari pernyataan Ribka yang mengatakan Negara ingin berbisnis dengan Rakyat,  pemerintah harusnya punya kesadaran akan hal itu.  Berikan pelayanan yang terbaik tentu saja akan memberikan keadilan serta bisa mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah untuk sama-sama memutuskan Mata Rantai Covid-19 di Indonesia.  

Oleh :
Ismail Weripang

Sabtu, 12 Desember 2020

Untukmu Aku Titip Amanah Perubahan

Untukmu aku titip Amanah Perubahan
================================
12/12/20

Dari geruduk rumah yang sederhana.
Muncul berbagai pertanyaan di benak.  
Fakfak yang sedang bergejolak dengan dinamika politiknya,  membuat suasana akan terasa ramai. Netizen dan timses siap beradu argumen di kolom komentar. medsos jadi sarana satu-satunya adu argumen, informasi dan data-data yang dimiliki. Saya tidak tahu bagaimana idealisme ini bisa bertahan.  yang jelas kita punya peluang yang sama untuk meraih kekuasaan. Bagimu saudaraku,  jadilah contoh dan teladan yang baik di bumi cendrawasih ini. Di negeri yang kaya akan pala ini, kita menitipkan amanah dan harapan yang besar untuk kedua PASLON.  Satu tungku tiga batu adalah semboyan kita.  Jika memang semua terasa sulit, maka lihatlah kembali sejarah panjang berdirinya kota yang sama-sama kita cintai ini.  Ambil lah setiap hikmah dari kemenangan dan kekalahan.  Jadikanlah setiap momentum pesta demokrasi ini sebagai ikatan kuat tali persaudaraan tanpa ada rasa kebencian,  menjatuhkan,  memfitnah dan lain-lain.  Genggamlah erat tangan saudramu,  bisiklah di telinganya "Aku ini saudaramu bukan musuhmu". 

Pesta demokrasi tanpa  kebencian, fitnah,  dan saling menjatuhkan adalah cita-cita bangsa ini. Deruan-deruan aksi dari balik kehebohan dinamika politik saat ini, harusnya membuat kita sadar bahwa makna dari Pemilu adalah menentukan satu yang terbaik di antara yang terbaik untuk memimpin negeri ini.  

Pasangan calon Bupati dan wakil Bupati FakFak,   SADAR Dan UTAYOH adalah putra-putri pilihan terbaik kota pala  yang kelak memimpin kota ini.  Siapapun yang terpilih,  harapan sederhana dari rakyat adalah bukan janji tapi bagaimana bisa mengemban amanah untuk bisa merealisasikan program-program dan janji-janji politik yang selama ini dibuat.  mari kita sama-sama  sukseskan Pilkada di kabupaten FakFak. Beda pilihan politik itu hal yang biasa, siapapun dia yang terpilih menjadi bupati dan wakil bupati, kita hargai sebagai keputusan akhir dari pihak penyelenggara KPU dan BAWASLU.  Untukmu pemimpin baru di kota pala,  ada rakyat yang menitipkan kerinduan akan perubahan dan kesejahteraan di kota Pala.  Kami rindu perubahan, kami rindu persatuan dan kami rindu kesejahteraan. 

#Dari_Tanah_Rantau
#Untukmu #Kota_Pala
#FakFak

Oleh :
Ismail weripang

Jumat, 04 Desember 2020

Membangun perspektif pemerintah Pusat terhadap persoalan papua

Membangun Perspektif pemerintah pusat terhadap persoalan papua
==================================

05/11/20

Membaca Indonesia dasawarsa belakangan ini,  terasa bahwa bangsa ini mulai kehilangan sebagian atau mungkin bisa dibilang semuanya dari akal sehatnya.  Berbagai aspek muncul, mulai dari Perilaku Ekonomi,  tingkah polah politik,  ritus keberagaman,  pandemi,  hingga ke persoalan Papua yang belakangan ini lagi hangat-hangatnya dibicarakan.  

Belakangan ini publik dihebohkan dengan ketua The United liberation movement for west Papua (ULMWP). Benny Wenda Selaku ketua ULMWP dengan terang-terangan membentuk pemerintah sementara rakyat West Papua.  Dengan Berani Benny Wenda mendeklarasikan dirinya sebagai presiden pemerintah sementara papua barat.  

Pernyataan Benny Wenda langsung ditanggapi oleh Menko Polhukam Prof. Dr.  Mahfud MD, beliau terkesan menganggap remeh apa yang di deklrasikan oleh Benny Wenda.  Bahkan dengan sikapnya yang biasa Prof. Dr.  Mahfud MD Menyatakan bahwa apa yang di deklarasikan oleh Benny Wenda hanyalah Negara Ilusi. Padahal isu Papua kerap kali muncul di PBB.  Artinya,  secara Hukum International isu papua seringkali dibahas dengan berbagai problemtaika yang di alami oleh rakyat papua. Terutama Isu HAM dan kebebasan Berekspresi. Tahanan politik yang begitu masif,  Rasisme,  pelanggaran HAM hingga kebebasan pers untuk mengungkapkan kebobrokan Hukum di tanah papua di bungkam oleh pemerintah pusat.  Ajakan dialog terbuka juga hingga saat ini belum di iyakan oleh pemerintah pusat.  

Pendekatan militer di papua justru di anggap solusi bagi pemerintah pusat,  padahal pendekatan ini justru menambah daftar panjang korban jiwa dan trauma yang mendalam bagi rakyat papua.  

Pemerintah seolah-olah menyembunyikan bangkai yang kemudian membusuk dan baunya mulai tercium oleh publik.  Harapan tokoh-tokoh intelektual papua adalah mengajak dialog terbuka tentang persoalan papua dan masa depan papua.  Tetapi hingga saat ini belum ada respon yang baik dari pemerintah pusat.  Justru saat ini,  pemerintah di sibukkan dengan persoalan yang  remeh temeh seperti HRS  vs Artis Nikita Mirzani. Terlihat lucu dan sangat tidak berkompeten pemerintah mengahabiskan Energi untuk mengurus hal-hal yang tidak urgen seperti itu.  

Padahal,  jika pemerintah mau jeli melihat persoalan papua tentu saja jauh lebih penting,  hal ini bukan tanpa alasan, Amnesty Intenational Indonesia mencatat hingga 22 september 2020, total pembunuhan di luar hukum di sepanjang tahun 2020 saja setidaknya mencapai 15 kasus dengan total 22 korban.  

Sungguh mengelikan!  Bangsa ini seakan lupa, bahwa semua amarah dari rakyat papua tentu ada sebabnya.  Hal inilah yang harus di perhatikan serius oleh pemerintah pusat  jika tidak ingin papua benar-benar lepas dari pangkuan NKRI.  pakailah pendekatan hati,  ajaklah dialog,  berikan mereka ruang untuk bisa menjadi bagian dari NKRI.   Dengan demikian,  pemerintah harusnya bisa membangun Perspektif yang baik tentang persoalan papua,  dari sanalah solusi dan penegakkan hukum itu bisa benar-benar ditegakkan dengan seadil-adilnya. Karena saat ini Demokrasi sangat membutuhkan Akal sehat.  Dengan akal sehat, Demokrasi akan bersih dari kepentingan Parsial yang kotor.  Perspektif atas dasar aplikasi demokrasi yang baik berujung pada penataan sistem politik, maka demokrasi yang baik akan bermuara pada sistem politik yang Rapi.  

Oleh:

Ismail Weripang


Minggu, 01 November 2020

Basis Intelektual politisi

Basis Intelektual Politisi
===========≠==========

Biarpun sudah terjadi perubahan politik yang di alami oleh bangsa Indonesia,  pada dasarnya peranan Intelektual tidak ikut berubah, terutama karena proses perubahan politik yang terjadi masih terus berlangsung. Artinya,  ia masih di hadapkan pada esensi dari dilema-dilema yang sama.  Akan tetapi, telah terdapat perbedaan prespektif dalan caranya memandang dilema-dilema tersebut,  dan dengan begitu berpengaruh terhadap beberapa perubahan pada konsep diri para Intelektual.  
Dilema yang paling berat adalah, memang dilema mengenai hubungan Intelektual itu dengan Politik (kekuasaan).  Selama ini, ia masih memiliki ide-ide yang jernih mengenai masa depan Negaranya,  tujuan-tujuan yang harus di kejar,  dan caranya tujuan itu harus di capai,  membuatnya tidak lagi bisa berpaling dari kekuasaan sebagai suatu alat untuk mewujudkan gagasan-gagasannya itu ke dalam kenyataan.  
Pada saat bersamaan sikapnya sendiri yang ambivalen terhadap kekuasaan masih tetap sama.  Dengan kata lain,  Intelektual pun sedang berada dalam keadaan krisis,  sesuatu yang direfleksikan dalam perdebatan modernitas dan pos modernitas.  Debat-debat ini berkisar seputar bagaimana intelektual harus bersikap dalam konteks yang baru,  dalan pergaulannya dengan negara atau partai politik.  Yakni,  dalam kaitannya dengan seluruh cakupan kesempatan yang semakin membesar guna memfungsikan Intelektualitasnya dalam cara-cara yang dapat membantu.  
Krisis yang dialami kaum intelektual dalam hal ini,  salah satu sebabnya adalah bahwa konstruksi peran-peran baru Intelektual dari tradisi-tradisi yang berlaku,  sekaligus juga dimungkinkan dan dibatasi oleh konteks yang baru.  Tradisi-tradisi dan konteks-konteks adalah "bahan" yang memunculkan kembali peran-peran yang baru bagi Intelektual dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi sebagai akibat terjadi pergeseran pekerja Intelektual dari posisi marjinal dalam masyarakat ke posisi yang lebih sentral.
Di samping itu,  terdapat kesadaran yang lebih besar akan perlunya menegakkan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan yang memiliki daya bantu di   dalam masyarakat,  yang dapat membatasi penyalahgunaan kekuasaan dan menjamin pastisipasi sukarela masyarakat dan organisasi.  Seyoginya,  ketika seorang politisi memiliki basis Intelektual,  ia akan lebih mengedepankan perubahan-perubahan,  pembaruan-pembaruan untuk kepentingan orang banyak secara visioner.  
Melihat realitas sekarang,  Indonesia memang makin membutuhkan politisi-politisi yang memiliki komitmen orientasi dan visi intelektualitas, lebih-lebih pada saat banyak produk keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat dan kualitas masa depan bangsa lebih banyak yang sesaat.  Komitmen adalah tanggung jawab Intelektual. Kita harus berbenah untuk menjemput setiap perubahan yang ada.  

Oleh 

Ismail weripang

Selasa, 27 Oktober 2020

Islamophobia dan pancasilais (Spesial Hari Sumpah Pemuda)

Islamophobia dan pancasilais 
****************============**********

20 oktober 2020, bertepatan dengan hari sumpah pemuda saya sengaja buka medsos dan mendapati video yang beredar di medsos pertengkaran antara anak bangsa terkait cadar Islam Radikal dan Nasionalis.  Miris!! Sangat miris saya saksikan vidio itu.  Dalam benak saya langsung teringat pada para pahlawan yang telah berjuang mengusir penjajah,  para pemuda yang bersatu dengan bambu runcing tanpa harus membenci satu sama yang lainnya.  

Melihat anak bangsa yang bertengkar karena berbeda pandangan menambah bumbuh perpecahan serta kebencian antar sesama Muslim itu Sendiri.  Pemikiran Islam dalam wawasan kebangsaan Indonesia secara langsung telah melahirkan Negara kesatuan Republik Indonesia.  Ia tidak lahir begitu saja dalam benak para bapak bangsa, melainkan ia telah bersama dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.  Ide kebangsaan lahir,  menyatu,  dan berkembang Bersama Islam.  Kita harus menyadari bahwa Toleransi bukan ucapan semata yang di koar-koar secara luas.  Mengklaim diri paling baik,  paling soleh,  paling pancasilais,  paling NKRI adalah sikap arogansi yang kerap kali justru menimbulkan perpecahan antar anak bangsa.  Islamophobia muncul karena cara pandang yang keliru terhadap Islam. Hal ini telah di ungkapkan di Chanel Youtube Felix Siauw.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana kita bisa memahami  Pancasila dan Islam sebagai Rujukan utama untuk menyadarkan kita bahwa Islam bukan berarti Radikal apalagi anti sama pancasila.  Ada beberapa hal yang perlu di ketahui agar tidak ada lagi Islamophobia adalah sebagai berikut.  

Pertama:
Bahwa Nilai Moral Islam telah membentuk menjadi Roh yang mengisi Tauhid Pancasila.  Gagasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah lahir dari ruang hampa tanpa makna.  Ia lahir dari suatu konsep Tauhid yang murni Islam memandang Allah sebagai titik awal berangkat,  berkreasi membangun bangsa.  Nilai Tauhid itu menjadi Roh utama yang membentuk sila-sila selanjutnya dalam falsafah pancasila.  Fondasi Tahid yang menjadi dasar bangunan Islam telah pula diletakkan oleh para bapak bangsa sebagai Fondasi kukuh sebuah Rumah bernama Indonesia.  Sebagai Generasi milenial sudah seharusnya kita cerdas melihat persoalan bangsa, bukan malah di suruh adu jotos yang justru merugikan diri kita,  agama kita,  dan banga kita.  Ayo sadar pemuda.  Bangun dari tidur panjangmu.  Lihatlah orang-orang di sampingmu yang membutuhkan tenagamu,  pikiranmu,  dan juga aksi-aksimu yang nyata.  Masih ingatkah pesan Bapak bangsa kita?  Ir. Soekarno.  Beliau pernah mengatakan bahwa "perjuangan saya mudah karena mengusir penjajah,  sedangkan perjuanganmu jauh lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri". Terbukti hari ini hal itu terjadi.  

Kedua:
Bahwa wacana Keislaman dengan Tauhid sebagai Fondasi berbangsa melalui pancasila dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami pasang surut.  Banyak pihak yang berupaya memisahkan bahkan membenturkan nilai-nilai Tauhid dengan pancasila,  dengan kata lain Islam Vs Pancasila.  Islam di sisi lain berhadapan dengan pancasila di sisi lain berhadapan untuk siap saling menerkam dan menikam.  Untuk itu perlu kembali kita mendudukkannya pada proporsi relasi yang sesungguhnya untuk melihat relasi konstruktif Islam dalam falsafah Pancasila.  

Gagasana Keislaman dan kebangsaan dalam benak pemikiran berbangsa dan bernegara telah menyelimuti para bapak bangsa pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.  HOS Tjokroaminoto, Soekarno,  Mohammad Hata,  M. Natsir,  Sjafruddin Prawiranegara,  Buya Hamka,  dan lainnya banyak mengadopsi nilai-nilai luhur Islam dalam membentuk alam berpikir guna membangun suatu gagasan Falsafah Luhur pancasila.  Penjajahan tidak saja berkait dengan penindasan fisik semata tetapi bertentangan dengan falsafah cita Islam.  Kesadaran akan arti penting berislam menjadi bahan bakar penggerak bagi pejuang untuk memerdekan bangsa ini.   Sudah saatnya kita sebagai pemuda perlu mengenal sejarah perjuangan,  wawasan kebangsaan,  dan bagaimana kita bisa mengimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.  Perbaharuilah semangatmu kawan,  genggamlah tanganku,  kuatkan tekadmu,  kita berjuang bersama,  berkarya bersama,  tanpa fanatik,  tanpa harus anti terhadap agama apapun,  golongan apapun,  dan Ras apapun. 

NegarawanMuda

Oleh
Ismail weripang




Minggu, 11 Oktober 2020

Idealisme Mahasiswa

Idealisme Mahasiswa
**********************
Menjaga marwah idealisme Mahasiwa yang turun kejalan melakukan aksi demonstrasi beberapa hari terakhir memang menjadi viral.  Kita harus maklum, ketika ada yang menganggap kehidupan mahasiswa di kampus-kampus perguruan tinggi mengakibatkan terelenasi didalam menara gading atau sangkar filsuf tidak berkooptasi atau terafiliasi oleh elit kekuatan politik.  Itu mungkin benar.  Apalagi terkait uu omnibus law yang sorot akan kepentingan kapitalis.  Tapi justru karena itulah mereka merasa dekat dengan rakyat, dan senantiasa menyeru untuk mengingatkan pentingnya moralitas yang bersumber dari kepentingan rakyat.  Merekalah satu-satu kekuatan kalau mau dibilang secara konsisten berada di depan  rakyat dalam segala kondisi dan mampu berhadapan dengan arogansi kekuasaan. Suatu kekuatan moral yang ironisnya berbanding terbalik dengan partai politik yang seringkali plin-plan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. 
mahasiswa memiliki banyak potensi untuk mengawal aspirasi rakyat dan berani kritis tanpa beban kepada penguasa.  Hal ini dibuktikan berdasarkan sejarah panjang beradaban bangsa Indonesia.  Reformasi 1998 merupakan bukti bahwa mahasiswa adalah aktor-aktor utama di balik runtuhnya Rezim Otoriter yang di pimpin oleh Soeharto.  Maka tak heran mereka berani berhadapan langsung dengan aparat TNI-POLRI walaupun nyawa adalah taruhannya.  Praduga bahwa,  dalam kalangan kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa lebel-lebel amarah, sebenarnya harus di imbangi oleh kenyataan pula, bahwa dalam golongan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan masa damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama di dorong oleh aspirasi-aspirasi murni   dan semangat yang ikhlas.  Golongan ini bukan saja haus edukasi,  akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu,  sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan caranya yang khas.  Tidaklah keliru kalau mereka menjadi tumpuan kepentingan rakyat yang terabaikan oleh sistem kekuasaan. Karena mereka di anggap mempunyai tiga fungsi: belajar,  aksi sosio-kultur dan perjuangan politik.  Oleh sebab itu,  tak heran mereka terus aktif dalam berbagai bidang.  Tak terkecuali perjuangan aspirasi buruh dan rakyat terkait uu omnibus law yang lagi hangat di perbincangkan ditengah publik.  

Oleh
Ismail weripang

Jayapura,  11 oktober 2020

Selasa, 06 Oktober 2020

OMNIBUS LAW CIPTAKER DAN MATINYA DEMOKRASI

Omnibus Law Ciptaker Dan Matinya Demokrasi
----------------------------------------------------------
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), senin (5/10/2020), telah mengetok palu tanda di sahkan Omnibus Law RUU cipta kerja menjadi undang-undang.  Pengesahan tersebut banyak mendapat penolakan dari berbagai kalangan masyarakat seperti buruh,  tani,  nelayan, mahasiswa dan warga net atau yang biasa di sapa netizen juga ikut menolak Omnibus law ciptaker.  Publik bertanya-tanya mengapa pemerintah dan juga DPR Terburu-buru mengesahkan UU omnibus law ciptaker tersebut.  Ada apa?  Mengapa terburu-buru?   Padahal ada masalah yang lebih urgen yang seharusnya di selesaikan oleh Dpr dan juga pemerintah. Masalah yang urgen dan paling penting  seperti Pandemi Covid-19 yang berjalan kurang lebih Tujuh bulan dan terus bertambah angka yang positif di Indonesia justru diabaikan begitu saja. Alhasil dengan terus bertambahnya kasus positif covid-19 di indonesia justru menambah beban ekonomi bangsa.  dengan di sahkan undang-undan ciptaker ini justru menimbulakan berbagai gejolak masa yang turun ke jalan terutama Buruh,  Tani,  nelayan dan juga mahasiswa.  Kemungkinan untuk memperhatikan protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh pemerintah justru  akan di abaikan dengan aksi masa yang turun ke jalan.  

Disisi lain,  langkah senyap Dpr dan pemerintah dalam memuluskan omnibus law Rancanagan undang-undang (RUU)  cipta kerja akhirnya terwujud.  Adapun poin-poin yang di anggap kontroversial dalam Undang-undang omnibus law yang menjadi sorotan publik antara lain seperti penghapusan upah minimum,  jam lembur yang lebih lama,  kontrak seumur hidup dan rentan PHK, pemotongan waktu istirahat,  dan mempermudah perekrutan TKA.  Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi pengusaha dan sebaliknya sangat merugikan bagi para buruh.  Selain itu potensi konflik agraria dan/  SDA lingkungan hidup juga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat.  Terutama masyarakat adat.  Mengingat selama 5 Tahun terakhir ada sekitar 1.298 kasus kriminalisasi terhadap rakyat akibat mempertahankan hak atas tanah dan wilayah hidupnya.  Misalnya perubahan undang-undang UU P3H (Pasal 82, 83 dan 84, yang ada didalam pasal 38 UU cipta kerja)  soal ancaman pidana kepada orang-perorangan yang di tuduh melakukam penebangan pohon, memanfaatkan hasil hutan tanpa perizinan dari pejabat berwenang di kawasan hutan tersebut.  Hal ini sungguh miris jika mau di lihat dari kacamata kita sebagai orang asli papua yang hidupnya sehari-hari bergantungan dengan alam seperti berkebun,  berternak,  dan juga mencari kayu bakar di hutan.  Dengan di sahkan undang-undang cipta kerja ini tentu sangat mempermulus langkah korporasi untuk eksploitasi hasil alam secara besar-besaran.  Tentu yang rugi bukan hanya buruh saja,  Tapi kita semua yang merasa anak bangsa bagian dari NKRI sangat di Rugikan.  Disisi lain omnibus law cipta kerja ini justru sangat mengungkan bagi pengusaha dan juga penguasa.  
Dengan demikian Demokrasi yang kita kenal dari rakyat,  oleh rakyat dan untuk rakyat hanya menjadi slogan semata.  Justru sebaliknya dari penguasa,  oleh penguasa dan untuk penguasa.  Maka matinya sebuah sistem yang demokratis justru di lakukan oleh penguasa kita sendiri.  Terutama wakil rakyat kita yang menjalin hubungan cinta segitiga antara penguasa dan kapitalis. Justru wakil rakyat kitalah yang selama ini kita percaya untuk menyambung lidah rakyat justru memilih berselingkuh dengan penguasa dan kapitalis.  Kedaulatan tertinggi di tangan rakyat justru di khianati oleh wakil kita sendiri.  Maka matinya suatu sistem yang demokratis justru di lakukan oleh penguasa Dan Dpr.  Semoga saja upaya yang di lakukan oleh kaum buruh, tani,  nelayan dan mahasiswa yang turun ke jalan tidak sia-sia dan dapat di dengarkan aspirasinya oleh penguasa.  Rezim ini sudah seharusnya tidak bersikap bodoh amat dalam manampung setiap aspirasi yang disampaikan oleh rakyatnya agar tidak terjadi korban jiwa akibat aksi masa yang turun ke jalan. Kemungkinan Timbulnya tindakan-tindakan anarkis justru menambah daftar panjang persoalan bangsa ini.  Pemerintah sudah seharusnya menjadi pendengar yang baik agar rakyat bisa percaya bahwa bangsa ini masih punya pemimpin dan juga wakilnya.  Untuk mengantisipasi konflik Horizontal dan Vertikal dimasa yang akan datang tentu harus kita benahi sistem sejak dini.  Terutama wakil-wakil rakyat kita yang justru saat ini berkhianat dari rakyatnya sendiri.  

Oleh
Ismail weripang

Untukmu...

Untukmu... Hati kita buatan Tuhan, bukan buatan Taiwan. Bisa rusak berulang kali, dan bisa betul berulang kali tanpa perlu dibaw...