Kamis, 27 Januari 2022

Bukan Negeri Orang Dalam

Bukan Negeri Orang Dalam
(Sebuah impian kecil)


Kemajuan ekonomi suatu bangsa dapat berkesinambungan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki prakarsa dan daya kreasi untuk kemajuan diri termasuk hak-hak politiknya. Prakarsa itu hanya akan tumbuh apabila ada kesempatan yang sama dan berkeadilan kepada setiap warga negara dalam proses pembangunan.

Saat ini, Negara-negara di dunia semakin kompetitif dalam persaingan global seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekologi. Oleh sebab itu, masyarakat kita harus cerdas, cermat, dan punya semangat yang sama untuk menerima setiap perubahan yang ada. 

Di negara maju, sistem meritokrasi telah diterapkan sejak ratusan tahun lampau. Contoh modern dari meritokrasi dapat dilihat di Singapura. Negara tetangga Indonesia tersebut telah membentuk pemerintahan dan administrasi di berbagai sektor dengan menempatkan para pemimpin berdasarkan prestasi atau kemampuan mereka.

Sedangkan di Jepang, meritokrasi telah ada sejak restorasi Meiji. Meritokrasi di Jepang dapat dilihat ketika pemimpin negeri matahari terbit tersebut memberikan beasiswa ke luar negeri bagi siswa yang berprestasi.

Jauh sebelum masyarakat modern menerapkan meritokrasi, Dinasti Utsmani telah terlebih dahulu mengaplikasikannya. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas negara yang terdiri atas berbagai etnik dan latar belakang budaya. Pada masa itu, bukan suatu hal yang mengherankan jika melihat anak Balkan menjadi serdadu atau komandan militer Utsmani dalam penaklukan Eropa.

Istilah orang dalam (nepotisme), harus berani kita lawan demi tercipta nya suatu pemerintahan yang bersih, stabilitas politik dan keamanan juga perlu diperhatikan agar terciptanya masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan terwujudnya sila ke lima " keadilan sosial bagi seluruh rakyat  indonesia". 

Tentu tidak mudah untuk sampai ke sana, tapi penulis yakin bahwa terwudnya hal-hal besar dimulai dengan satu langkah kecil. Sebelum menegur orang lain, terlebih dahulu mengoreksi diri sendiri. apalagi kalau  kita berbicara soal bangsa, masa depan Negara, perlu kesabaran, solidaritas dan rasa optimis yang tinggi demi terwudnya cita-cita bangsa sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendiri bngsa.

Oleh 

Ismail Weripang

Rabu, 12 Januari 2022

Perahu kajang Tua


Perahu kajang tua

Cerita perahu kajang tua masih membekas dihati dan akal.  Bagaimana para penakluk laut dan gunung dari negeri baham pernah ada di muka bumi.  

Teluk berau,  punya cerita sendiri tentang leluhur anak baham. Cerita turun-temurun ini bukan fiksi belaka,  melainkan realita yang pernah dirasakan oleh Tete (kakek),  hingga Bapak saat ini.  

Suatu malam yang gelap gulita,  gemerlap cahaya bintang menerangi langit malam.  Perahu kajang itu menuju arah sorong selatan untuk sekedar menukar sagu dengan sayur.  

"Arah kemudimu salah,  putar kiri sedikit,  lihat bintang yang paling terang itu,  muka perahu harus tepat pada bintang itu" ujar seorang pria paruh baya untuk kedua anaknya Yoko dan Dahlan.  

"Bagaimana mungkin bapak bisa tahu?  Sedangkan bapak sedang tidur dalam perahu" pikir Yoko dalam hati ketika memegang kemudi dibelakang perahu.  

Dahlan dengan dua dayung terus mendayung dengan punggung menghadap ke muka perahu. Ketiga anak bapak ini terus berlayar sesuai arah bintang yang sudah diarahkan oleh sang ayah.  

Lautan lepas,  gelap gulita,  bagimana anda bisa mengetahui arah?  Ya,  bintang adalah kompas alami.  Sang penakluk laut dizaman itu memang benar-benar hebat.  

Ketika tak ada angin,  Tete berdiri lalu memanggil angin untuk berlayar memakai layar. "suara memanggil angin itu sedih, dan itu benar-benar terjadi" ujar bapak.  

Sayang seribu sayang,  diantara keluarga bapak belum ada yang tau,  atukah mungkin saya yang belum mencari tahu, entahlah. Bapak bilang dia lupa bagaimana cara memanggil angin itu.

  Suara merdu nan sedih itu hilang ditelan zaman.  "suara memanggil angin itu benar-benar sedih" bapak menambahkan kalimatnya sambil menunduk menggulung pandoko.  

Kami, anak cucu punya rasa penasaran yang sangat tinggi tentang bagaimana keperkasaan para leluhur menakluk laut dan gunung.  Karena bagaimanapun juga kami hidup dari laut dan gunung.  

Kami dilahirkan untuk menjaga negeri ini, kami anak cucu besar dari lingkungan yang memang diwajibkan untuk bertahan hidup dari alam. Dan alam memberikan segalanya untuk kami. 

Pada akhirnya, Sebuah peristiwa mengungkap sejarah bahwa yang berusaha dieliminasi adalah orang-orang yang kuat. Terkadang Semesta banyak menyimpan misteri. Kita diharuskan untuk selalu mencari tahu apa dan siapa diri kita.  

Pesan Moral
"Kata "menyerah" tidak ada dalam kamus hidup para leluhur baham saat itu. Tekad dan keyakinan yang kuat membuat mereka optimis untuk sampai pada tujuan. Hidup keras bersama alam harusnya membentuk setiap karakter anak-cucu saat ini.  Walaupun tak memiliki kompas, para leluhur punya cara sendiri untuk menakluk laut dan gunung. Oleh karenanya, darah pantang menyerah harusnya mengalir pada anak-cucunya saat ini"

Rabu, 15 Desember 2021

Mencari sosok pahlawan di masa transisi


Mencari sosok pahlawan di masa-masa Transisi 

judul tersebut sengaja dibuat untuk menarik kesimpulan kata "PENCITRAAN" sebagai objek tujuan dari tulisan ini.  Hari ini,  dengan mudah kita bisa menyaksikan bagaimana cara penggiringan opini publik dengan menggunakan media sosial.  

Maka mencari sosok pahlawan yang tak terlihat tetapi selalu ada itu benar-benar sulit.  Karena saat ini,  para penjahat, para koruptor, para mafia,  punya cara tersendiri mengelabui opini publik menggunakan media sosial.  

Terbuka lebar pintu kemungkinan bagi siapa saja,  termasuk seorang koruptor kelas kakap, bahkan para mafia juga bisa saja berpeluang besar masuk dan ikut serta bermain-main dalam penggiringan opini publik. para buzer bayaran juga ikut serta menyebar informasi yang bisa saja ditelan mentah-mentah oleh masyarakat awam, dan kemudian memicuh pecah-belah dalam kehidupan berbangsa.  

Itulah kenapa negeri ini mendambakan munculnya sosok pahlawan dari kegelapan, dari ketidakterdugaan, dari kemustahilan. ibarat mutiara yang berabad-abad tersimpan didasar laut,  untuk menemukannya,  kita butuh usaha untuk menyelami jauh ke dasar laut.  sang mutiara yang tersimpan berabad-abad lamanya,  akan mahal dan benilai harganya di hadapan publik, jika ia muncul dipermukaan laut.  

Tak peduli kata-kata "Gilileo" yang meluncur dari dalam lakon bertolt brecht;  "tak berbahagialah negeri yang memerlukan pahlawan". Namun Indonesia sekarang,  sangat membutuhkan pahlawan yang berani dimasa-masa transisi. 

Indonesia yang harus melalui masa-masa transisi yang berbahaya pasca virus covid-19 harus memunculkan sang pahlawan dari dasar laut. 
penulis kurang setuju jika ada yang menyebutkan bahwa "segala sesuatu bisa dikendalikan dengan money" itu berarti kita harus setuju bahwa para mafia,  para koruptor, para penjahat,  bisa saja memegang kendali arah kebijakan publik.  

Tentu saja,  lubang dimasa transisi tidak cukup diisi oleh satu atau dua orang pahlawan. paling tidak,  jumlah pahlawan itu ada disetiap daerah,  ada disetiap lingkungan masyarakat dimana tempat kita tinggal.  

apa ciri-cirinya,  mereka yang selalu amanah,  cerdas,  punya empati, punya rasa tanggung jawab,  dan takut terhadap Tuhan.  seperti apa yang dikatakan Prof.  Salim Said,  jika suatu bangsa tidak ada yang ditakuti,  maka tidak akan maju bangsa itu.  

sosok pahlawan itu ada pada diri anda,  jika anda mau. sosok pahlawan itu dimulai dengan kebaikan kecil yang terus berulang-ulang,  dimulai dari diri sendiri,  konsisten memegang idealisme bahwa yang benar itu benar,  dan yang salah itu salah.  

Oleh

Ismail weripang

Senin, 22 November 2021

11 Messi Menuju Piala Dunia


11 Messi Menuju Piala Dunia

Teori lingkungan tampaknya yang paling menentukan pengembangan budaya manusia (cipta,  karsa dan karya).  Messi bisa menjadi pesepak bola terbaik di dunia karena dibesarkan dilingkungan yang kondusif,  lingkungan yang menunjang bakatnya.  

Saya percaya bahwa ada banyak Messi di dunia ini,  ada banyak orang jenius seperti Einstein di dunia ini. Begitu banyak bakat dan potensi dari orang-orang hebat yang tersebar luas dinegeri ini, namun tidak punya kesempatan yang sama seperti Messi dan Einstein. 

Lingkungan mungkin menjadi salah satu faktor utama mengapa bakat-bakat potensial ini sulit ditemukan dan dikembangkan. Selain itu,  kurangnya perhatian pemerintah terhadap sumber daya manusia menjadi salah satu alasan mengapa dari 270 juta penduduk Indonesia tidak ada 11 orang pemain sepak bola yang  berlaga di Kompetisi level tertinggi Piala Dunia.  

Mimpi anak-anak dari desa,  dari pelosok,  berujung hancur karena pengaruh buruk seperti Miras dan Narkoba.  11 orang pesepak bola terbaik, dan orang-orang jenius itu ada,  mereka tersebar tapi tidak dirangkul.  Sebagian dari mereka putus sekolah karena terhalang biaya yang tinggi.  

Cita-cita demokrasi adalah mengekang penyalahgunaan kekuasaan dan hal-hal yang tidak baik dan tidak manusiawi; demokrasi memberi harapan dan perasaan bagi setiap warga negara yang hadir,  kemudia akan berguna bagi bangsa dan negaranya yang terlindungi haknya,  dimana setiap individu merasa tidak "asing" dirumahnya sendiri.  

Jadi, semakin majemuk suatu masyarakat, semakin banyak jenis keunggulan yang dimiliki suatu bangsa. Potensi ini yang harus terus-menerus digali dan dikembangkan. Akhir kata,  saya ingin melihat 11 Messi berlaga di Piala Dunia.  

Oleh : Ismail Weripang

Sabtu, 13 November 2021

Move on


Move on

Sebaik-baik kisah adalah mereka  yang belum pernah merasakan bagaimana sakitnya berharap pada manusia.  Jika kata "move on" banyak didefinisikan sebagai usaha melupakan sang mantan,  maka saya mendifisikan "Move on" sebagai jalan untuk berpindah dari yang buruk menjadi lebih baik.  

Seperti cita-cita,  kita butuh komitmen,  kerja keras,  disiplin,  doa dan usaha untuk bisa  meraih cita-cita.  Kita butuh motivasi dalam hidup untuk move on dari hal-hal buruk.  

Ketika keinginan sudah diputuskan menjadi cita-cita, maka konesekuensinya adalah kita tidak boleh berteman dengan rasa malas. ayo "move on" dari kemalasan. Kemalasan menciptakan kelemahan, mengurangi produktivitas,  dan membunuh cita-cita yang telah disusun.  

Sudah seharusnya kita membunuh rasa malas untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan,  dan cita-cita.  Mulai dari sekarang jangan  menunda-nunda.  Jangan katakan, "lima menit lagi saya mulai" kata-kata ini membius kita hari ini dan menyesal di hari esok.   ingat,  waktu tak bisa ditarik kembali.  Ia akan berlalu bersama kenangan.. seperti kenangan kamu bersama sang mantan, Hehe...  😂

Bukankah tubuh kita butuh istirahat?  Ya, benar. Tubuh memang butuh istirahat,  butuh refresing,  butuh asupan gizi yang cukup,  butuh olahraga dll;  tapi ingat,  waktu tak bisa kembali.  Oleh sebab itu,  manajemen waktu sangat penting bagi setiap individu yang ingin mewudkan impiannya. 

Terlalu banyak istirahat dan bermals-malasan maka dampaknya kembali pada diri kita sendiri. Kita tidak produktif karena tidak memahami esensi dari disiplin untuk mengatur waktu.  Dampaknya,  kita akan menyesal,  dulu kenapa saya tidak belajar,  dulu kenapa saya tidak lakukan ini,  kenapa dulu saya tidak prodiktif?  Dan masih banyak lagi.  

Tapi penyesalan dimasa yang akan datang apakah bisa mengembalikan waktu hari ini?  Tentu tidak.  Jika kita ingin tubuh bergerak dan otak berpikir untuk menuju kemajuan hidup;  maka jangan biarkan kemalasan melenakan kemakmuran yang seharusnya menjadi milik kita.  

Mari FOKUS pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Ayo move on dari hal - hal buruk,  jaga kebiasaan baik kita,  karena akan terbentuk karakter.  

***

Kamis, 04 November 2021

langkah untuk kembali



Langkah untuk kembali
---------------------------------------

Kembali kepada Allah, bagi yang hatinya lelah,  semangatnya lumpuh,  dan jiwa yang dirasuki atmosfer negatif.  Kembalilah kepada Allah,  bagi  yang merasa  kecewa dan marah...

terkadang ujian mampu membuat kita tumbuh sebagai manusia yang mulia, manusia yang mampu melihat ujian sebagai pelajaran hidup. suguhkan langkahmu dalam senyap, berikan yang terbaik untuk hal-hal positif.  sesungguhnya, hidup bukan soal panjang umurnya;  tapi bagaimana kualitas umurnya.

saudaraku, kembalilah kepada Allah jika kamu merasa lelah. ini nasehat sederhana, dari orang awam yang masih terus belajar. jika satu samurai mampu menebas satu kepala,  maka ijinkan tulisan ini menembus ribuan kepala. 

Netralkan hati dan tumbuhkan pikiran.
seruputlah rizki yang halal, dan nikmatilah sisah-sisah hidup dengan sebaik-baiknya. Boleh menikmati sandiwara dunia dengan canda tawa,  tapi ingatlah kematian dengan iman dan takwa. Nasib yang malang adalah mereka yang bersenang-senang namun lupa pada kematian.

Rintik-rintik  ujian dan cobaan adalah bentuk cinta Allah kepada hambanya. Maka  bersyukurlah, bagi mereka yang menjalani hari tanpa keluh,  dan hidup dengan penuh rasa syukur.  waktu terus merangkak, Jemputlah kemenangan, Sebelum datang kematian.

Semoga Allah merahmati anda dalam masa-masa sulit dan bahagia.  Kuatkan iman,  ilmu,  dan takwa.  sertakan adab dalam setiap tindakan,  muliakan orang tua, dan terus fokus dalam hal-hal kebaikan. 

Fokus beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi lebih baik. Semoga kita semua menjadi orang-orang  yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan masyarakat, Agama,  dan bangsa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw; "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (H.R. Bukhari).

berlindung Kepada Allah Swt.,  dari hati yang tidak khusyuk,  nafsu yang tidak puas,  mata yang tidak mampu menangis,  dan doa yang tidak terkabulkan. Mari keluar dari penjajahan diri yang mengakibatkan amarah dan dendam. maafkan,  maafkan,  maafkan,  lalu lupakan...

*Madi

******

Selasa, 26 Oktober 2021

Perjalanan...



Perjalanan 

Dunia adalah jembatan menuju akhirat. dunia adalah tempat sementara yang dihiasi berbagai warna kehidupan yang menipu. 

Uang bukan tuhan,  jabatan tak abadi,  tahta bukan lambang penghormatan. tak ada yang salah dengan Dunia,  tak ada yang salah dengan Uang  dan jabatan. 

Semua ada kadarnya,  kita boleh mencari uang sebanyak-banyaknya,  tapi tidak menyembah uang dan lupa pada sang pencipta. Kita boleh memiliki jabatan,  tapi tidak untuk dipertahankan mati-matian,  semua ini ada masanya.  

Satu hal yang perlu di ingat adalah semua sandiwara ini tidak kekal,  maka persiapkanlah bekal untuk pulang ke kampung halaman yang kekal(Akhirat).                                            

Jangan mau diperbudak  oleh dunia,  jangan mau dipermainkan dengan uang, pangkat,  dan jabatan.  

Letakkan dunia ditanganmu,  bukan dihatimu.  Jika punya materi,  perbanyaklah bersedekah.  Jika punya jabatan,  perbanyaklah amal kebajikan. gunakan jabatan yang sementara itu dengan bijak agar bermanfaat bagi orang banyak. 

BAHAGIA ITU SEDERHANA ... 
PERLAKUKAN ORANG LAIN SEPERTI KITA INGIN DIPERLAKUKAN... 

Telinga diciptakan untuk lebih banyak mendengar, Mulut di ciptakan 
untuk lebih banyak berkata-kata lembut, memberi semangat, menghibur, memuji, dan memaafkan,...

Jauhkan diri dari berucap kata-kata yang kasar, keras, menghina, dan intimidasi yang bisa melukai perasaan orang-orang terdekat dan sekitar...

Ingat!!!  
Kita hanya umat manusia,  Hamba Allah. kesempatan untuk hidup di dunia hanya sekali.  Maka Tentukan langkahmu,  perjalanan hidup terbaik adalah menjadi manusia yang bermanfaat; Menjadi manusia dengan segala keterbatasannya mampu mengaplikasikan hidupnya hanya semata-mata Menyembah kepada Allah SWT.  

Tetap melangkah dan bergerak dalam diam.  ini bagian dari proses hidup yang tak perlu diceritakan. Hampir semua orang bisa melewatinya. Badai dan gelombang tidak akan menetap selamanya. Tugasmu memegang kemudi dan tetap fokus. dengan ijin Allah kamu akan sampai pada tujuan.

Dan Jadilah seperti tebing dipinggir laut yang terus di hujam ombak,  tetapi tetap tegar dan menjinakkan murka air disekitarnya...

Jangan tertipu,  dan saya yakin Kamu pasti bisa menjalani hidup dalam bentuk versi yang terbaik.  Jadilah Nahkoda yang baik untuk dirimu dan sekitar. 

Man Jadda Wajada

Rabu, 13 Oktober 2021

Subuh

Subuh

Lantunan ayat suci
Menggema dilangit-langit!!! 

Ciptaan-Mu sungguh indah
Malam gelap lepas lelah
Menunggu sang fajar tiba

Waktu terus merangkak 
Dingin subuh menyimak sejuk
Ayam jantan bersahutan 
Azan subuh dikumandangkan 

Jemputlah kemenangan 
Sebelum datang kematian
Jiwa dengan kemuliaan
Selalu ingat kematian

Doa-doa terus kupanjatkan
Mengalir memecah langit
Berdzikir Pada Tuhan
Menetes air mata dalam kesunyian 

Pada akhirnya... 
Maut menjemput!!!
kembali Pada keabadian 
Sang Illahi... 

*Madi

 

Rabu, 06 Oktober 2021

Suara Bumi



Suara bumi

Jangan kau keruk
Aku bisa rusak
Jangan kau keruk
Aku  terlihat buruk

Berhentilah...

Rangkul aku seperti sahabatmu
Jaga aku seperti saudaramu
Aku ingin hidup sepertimu

Pintu keserakahan
Awal-mula kehancuran
Suara perpecahan 
Muncul sebagai ketidakadilan 

Tubuhku berserak
Manusia mendesak
Aku muak

"manusia kan sadar jika aku marah!!! maka bencana adalah pilihan terbaik" 

*Madi

Sabtu, 04 September 2021

Sagu

Sagu
(hasil jepret dari Patimburak, muara menuju kabubur,  ubadari dan kayuni) 

***

Kekayaan narasi dan budaya sagu di papua menandai posisi penting tumbuhan ini sejak lama.  Sagu awalnya tidak hanya dikonsumsi orang papua,  tetapi juga masyarakat di berbagai tempat lain di Indonesia. 

Seperti diketahui bersama,  leluhur papua secara turun-temurun sudah mengonsumsi sagu dan ubi-ubian sejak lama.  Ketahanan fisik yang kuat terbukti dari bagaimana para leluhur bekerja dan mencari makan.  

Di Papua,  sagu bisa diolah menjadi beragam jenis kuliner khas daerah.  Tiap-tiap suku memiliki teknik dan cara masing-masing,  walaupun yang paling populer adalah papeda.  

Di Fakfak misalnya, sagu di olah menjadi beberapa kuliner khas daerah,  sebut saja danakusurian,  ampas sagu (sakar api), singgoli,  Sagu lempeng, dana kakain (olahan khas ini di bungkus pake daun sagu), dan tentu yang paling populer Papeda Ikan Kuah kuning. 

Dalam Buku "Sagu Papua untuk Dunia" karya Ahmad Arif menyatakan bahwa kerentanan pangan Indonesia boleh dibilang karena kurangnya pengetahuan dibandingkan kurangnya pangan.  Maka,  merujuk pada pandangan Soekarno, sudah saatnya kita menempuh kebijakan pangan yang berperspektif Nusantara.  

ini berarti tanaman lokal yang terbukti mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat mendapat prioritas. Salah satunya sagu.  Sagu seharusnya bisa mengatasi kebutuhan pangan di papua,  bahkan di seluruh Indonesia. Kuncinya adalah kembali pada konsep keberagaman pangan.  

Dengan keberagaman pangan,  pemerintah sudah tidak perlu lagi Impor beras. Pemerintah sudah tidak perlu lagi membuka hutan ratusan atau bahkan ribuan hektar seperti di merauke untuk menanam padi.  

Sekalipun demikian,  persoalan pangan memang bukan hanya soal kebijakan. Pangan juga soal selera masyarakat yang telah berubah.  Selain menjadi candu beras,  kini mie Instan telah menjajah meja makan kita.  

Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kebijakan impor nasional kita.  Kurangnya stok beras,  dan tidak jelas iklim dan hasil panen padi, membuat pemerintah terpaksa untuk impor beras dari negara tetangga seperti vietnam,  Filipin,  dan kamboja.  

Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa sagu menjadi satu-satunya solusi bagi seluruh tantangan pangan ke depan.  Namun, argumen yang hendak kita bangun adalah bahwa ketersediaan sagu melimpah di alam papua. 

Harapannya kedepan tumbuhan ini bisa lebih di hargai lagi,  terutama untuk mengubah kebijakan pangan nasional yang selama ini lebih identik dengan beras.  

Oleh :
Ismail Weripang 

Rabu, 01 September 2021

Tomang

Tomang


Seiring berjalannya waktu,  pengaruh tas modern sedikit menggeser karifan lokal seperti Tomang.  Pengrajin tangan tersebut lambat laun akan musnah terkikis Jaman apabila kaum milenial, masyarakat,  dan Pemerintah tidak melestarikannya sebagai Ikon daerah yang mendunia seperti halnya noken.  

Sedini mungkin kita perlu melihat bahwa potensi tomang ini harusnya menjadi ikon daerah. Tomang harus terus di lestarikan kepada anak-cucu sebagai bentuk kepedulian kepada kearifan lokal yang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Noken kini telah menjadi salah satu warisan dunia,  mungkinkah Tomang akan menyusul? 

Pertanyaan besar ini harusnya menjadi renungan untuk kita semua,  terlebih khususnya masyarakat FakFak dan muda-mudi Baham yang kini ingin berkarya untuk Negerinya.  Tomang sejatinya adalah tas lokal, yang di gunakan untuk mengambil sayur di kebun, panen pala,  mengisi Sirih pinang dan lain-lain. tergantung ukuran dan besarnya.  

Saat ini, dunia tengah bergerak  cepat memasuki Revolusi Industri 4.0. digitalisasi masuk ke setiap bidang kehidupan. Mulai dari sektor budaya,  manufaktur hingga finansial.  Tanpa kualitas yang memadai,  Sumber Daya Manusia yang mumpuni dalam berkarya dan kreatif, sudah bisa di pastikan bahwa kita akan tertinggal di bandingkan negara-negara lain.  

Melihat tantangan Jaman di atas,  maka tak cukup berbekal pendidikan sekolah saja,  bakat yang dimiliki setiap pribadi perlu diasa dan di kembangkan sejak dini.  Termasuk mengembangkan budaya dan kearifan lokal seperti Tomang.  

Jika kita lengah,  maka bersiap-siaplah menuju kepunahan kearifan lokal. Bukan hanya Tomang,  beberapa kearifan dan kerajinan tangan lokal lainnya akan tergerus ke jurang kepunahan. apabila kita tidak benar-benar serius melestarikannya.  

"Nenek Aminah Gwasgwas yang sudah berusia senja adalah salah satu contoh pengrajin tangan lokal yang saat ini tinggal di kampung kinam"  sudah saatnya generasi milenial belajar dan melanjutkannya... 

Ismail weripang

Untukmu...

Untukmu... Hati kita buatan Tuhan, bukan buatan Taiwan. Bisa rusak berulang kali, dan bisa betul berulang kali tanpa perlu dibaw...