Selasa, 27 Oktober 2020
Islamophobia dan pancasilais (Spesial Hari Sumpah Pemuda)
Minggu, 11 Oktober 2020
Idealisme Mahasiswa
Selasa, 06 Oktober 2020
OMNIBUS LAW CIPTAKER DAN MATINYA DEMOKRASI
Kamis, 24 September 2020
Radikal muncul karena aspirasi diabaikan
Senin, 07 September 2020
KONTRIBUSIKU UNTUK TANAH PAPUA
Maka, kami pun datang dengan penuh antusias ingin membantu sekaligus memberikan semangat kepada anak-anak agar mereka bisa tetap belajar walaupun dalam kondisi yang terbatas.
Rabu, 02 September 2020
(Filosofi Kebangsaan) Ruh permainan kolektif sepak bola
Rabu, 26 Agustus 2020
Kepada Aktivis Muslim (Khalwah)
Rabu, 19 Agustus 2020
Tuntaskan Persoalan Papua berdasarkan perjalanan Sejarah politik Rakyat papua.
27 September 1961, Perdana Menteri Belanda, Joseph Luns, mengajukan ke Majelis Umum PBB tentang adanya juridiksi internasional mengembalikan Irian Iarat dan menyiapkan penduduknya untuk melakukan semacam Pepera.
1 Desember 1961, Pemerintah Belanda mulai didesak oleh Bangsa Papua untuk segera menaikkan Bendera Nasional Papoea Barat dan menyanyikan lagu Kebangsaan Papua di seluruh wilayah tanahPapua. Akhirnya desakan itu diterima oleh Gubernur Pemerintahan Nederland Niuew Guinea dan Pemerintah Kerajaan Nederland sehingga mulai dinaikan serempat di seluruh Tanah Papua tanggal 1 Desember 1961.
19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan Komando Pembebasan (ANEKSASI) TRI KOMNDO RAKYAT (TRIKORA) yakni: Gagakan Negara Boneka Papua Buatan Kolonial Belanda; Kibarkan bendera sang saka merah putih di seluruh Irian Barat; Bersiaplah untuk moblisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
19 Desember 1961, Mulai Ekspansi Militer Indonesia Untuk Merebut Papua Dari Tanggan Belanda dan Membubarkan Negara Papua Barat yang telah disiapkan Oleh Belanda (merebut Kekuasaan) dari tahun 19 Desember 1961-15 Agustus 1962.
2 Januari 1962, Lewat Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Mandala, maka mulai melakukan infiltrasi ke Papua lewat laut dan udara, kemudian kontak tembak antara Tentara Pendudukan Belanda dengan para penyerbu yang terdiri dari Militer dan sukarelawan Indonesia yang bergabung dalam komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
Dengan demikian sampe detik ini sejarah ini belum di tuntaskan secara serius oleh pemerintah indonesia. Sehingga tak heran jika sampe hari ini gejolak suara merdeka terus di suarakan, karena memang problem masa lalu yang belum dituntaskan secara baik oleh pemerintah indonesia. Secara sosial-politik memang papua memiliki latar belakang sejarah yang berbeda dengan berbagai daerah yang lain di Nusantara. Tapi yang perlu di Garis bawahi adalah, di balik rakyat papua yang pro kemerdekaan ada sebagian rakyat papua yang ingin memperjuangkan haknya untuk hidup berdampingan satu kesatuan dari ikatan NKRI. jauh sebelum adanya bintang fajar, Frans Kaisepo salah satu tokoh papua yang menentang kolonialisme belanda di atas tanah papua. Bukan hanya Frans, ada banyak tokoh-tokoh papua yang memperjuangkan haknya bersama para pejuang merah putih.oleh sebab itu sengaja ingin di hilangkan dari sejarah peradaban rakyat papua tentang bagaimana kontribusi rakyat papua yang ingin bergabung dengan NKRI. Tidak usah jauh jauh, saya ambil contoh para pejuang yang menentang belanda adalah almarhum kakek saya sendiri, beliau menentang kolonial belanda dengan membentuk gerakan perlawanan bersama para pejuang lain untuk tidak ingin hidup bersama di bawah tekanan kolonial belanda. Hal ini saya dapatkan bukan tanpa alasan, berdasrkan cerita-cerita sejarah yang saya alami sendiri, bahkan di belakang rumah kakek bendera merah putih sepanjang 2 meter di simpan dengan rapi dan ditanamkan dalm tanah. Penyimpanan bendera ini bukan tanpa alasan, akibat dari intimidasi kolonilal belanda maka sang saka merah putih di sembunyikan dengan rapi di dalam peti. beliau takut belanda membakar atribut kemerdekaan indonesia. sehingga mengubur dalam-dalam sang saka merah putih dengan peti. Hal ini membuktikan bahwa jiwa nasionalisme masyarakat fakfak memang sangat cinta pada NKRI. tapi di balik itu semua, ada juga sebagian yang ingin merdeka dan ingin berdiri sendiri sebagai bangsa yang berdaulat. Semua itu berawal dari sejarah masa lalu yang belum tuntas hingga saat ini.
Somoga sedikit tulisan di atas memberikan sedikit gambaran dan pemahaman pada kita mengenai persoalan papua. Kritik, saran dan masukkan sangat di butuhkan. Semoga bermanfaat...
Oleh
Ismail Weripang
Kamis, 06 Agustus 2020
Revitalisasi wawasan kebangsaan
wawasan kebangsaan justru akan menyadarkan warga negara akan pentingnya arti hidup bersama atas dasar persamaan hak dan kewajiban di hadapan hukum, serta sebagai pembentukan tata pandang yang sehat dan wajar mengenai masa depan. Justru dalam masa krisis ini, wawasan kebangsaan mempunyai dua sisi mata uang yang sama. Pertama, mendukung suatu unikum dalam arti suatu pengelolaan berbagai subunikum dalam suatu rangkaian kerangka kebangsaan. Kedua, efektif untuk mengelola suatu bangsa yang besar, dalam masa setiap unikum dapat mempertahankan keunikannya.
Jumat, 26 Juni 2020
"Bung Karno dan Geopolitik Asia Pasifik : Menakar Dinamika Laut China Selatan"
Sabtu, 20 Juni 2020
Islam dan Andalusia
BincangSyariah.Com – Setelah pertikaian antara pemimpin Badajoz dengan Sevilla mereda akibat diredam oleh pimpinan dari Bani Juhur yang menguasai Cordoba, timbul lagi pertikaian antara Sevilla dengan Granada.
Pertikaian terjadi selain karena ambisi untuk merebut wilayah, juga sikap rasis yang lahir dari konflik kedua belah pihak. Pimpinan Granada dan keturunannya merupakan keturunan suku Barbar. Sedangkan pimpinan Sevilla dan keluarganya merupakan keturunan bangsa Arab asli. Sikap rasis acapkali menimbulkan perasaan paling baik, benar dan ingin menjadi dominan.
Bani Zairi yang memiliki Dinasti di Granada memiliki ambisi untuk menandingi keunggulan Dinasti Bani Abbad di Sevilla selama bertahun-tahun. Bani Abbad memiliki keunggulan di kekuatan militer dan sastra. Sedangkan Bani Zairi unggul dalam bidang militer saja. Bani Abbad selaku keturunan Arab asli selalu memiliki ambisi melawan orang-orang yang berusaha untuk mnyingkirkan suku Barbar, di Andalusia. Akibat ambisinya timbullah peperangan dangan Bani Abbad pemilik Sevilla.
Pertempuran keduanya berawal dari Ibnu Abbad, pimpinan Sevilla yang hendak merebut Cormona, Istiga dan Sodania dari al-Barzali. Al-Barzali lalu mengirim surat kepada Idris al-Mutaayyad al-Hamudy (pimpinan wilayah Malaga) dan suku-suku Sonhajah yang masih bagian dari Suku Barbar. Ia memohon agar Idris mengirim tentara bantuan yang dipimpin oleh Ibn Baqonnah Ahmad bin Musa untuk menyerang pasukan Ibnu Abbad. Begitu juga Badis bin Habus, pemimpin Dinasti Bani Zairi yang berasal dari suku Barbar membantu untuk melawan pasukan Dinasti Bani Abbad yang dipimpin oleh Ismail bin Abbad. Peperangan berakhir dengan terbunuhnya Ismail, kepalanya dipenggal dan diserahkan kepada Idris.
Permusuhan antara Sevilla dengan Granada ditandai dengan persaingan yang sengit dalam pemerintahan terutama perluasan wilayah. Konflik makin meruncing saat al-Mu’tadhid bin Abbad menggantikan ayahnya memimpin Sevilla dengan Badis bin Habus dalam merebut Malaga. Padahal di awal pasukan Bani Zairi membantu pimpinan Cormona bersama tentara pasukan Malaga untuk melawan Sevilla. Kini Bani Zairi juga justru ingin merebut kota Malaga. Pada akhirnya kota Malaga berhasil direbut oleh Bani Zairi di bawah pimpinan Badis bin Habus, sedangkan al-Mu’tadhid mendapatkan wilayah Algeciras (1054 M).
Rupanya penduduk Malaga merasa tidak puas dengan kepemimpinan Badis yang merupakan keturunan suku Barbar. Mereka secara diam-diam mengutus al-Mu’tadhid untuk menaklukkan Malaga dari kepemimpinan Badis. Ini menjadi angin segar bagi al-Mu’tadhid untuk kembali berjuang merebut wilayah Malaga. Namun Badis lebih cepat tanggap dalam menangani kedatangan musuhnya. Terjadi perang di antara kedua pasukan lalu karena pasukan di bawah kepemimpinan Badis lebih kuat, al-Mutamid melarikan diri bersama Ibnu Abbad al-Jabir ke kota Ronda.
Pada tahun 1069 M al-Mu’tadhid wafat, lalu kepemimpinan diganti al-Mu’tamid, putranya yang bahkan lebih berambisi. Ia hendak meneruskan perjuangan ayahnya untuk merebut kota Malaga. Ia mengirim utusan ke Malaga untuk mengintai kepemimpinan Bani Zairi. Pengintai melaporkan secara berkala tentang keadaan kota Malaga.
Tapi Badis memiliki strategi kepemimpinan yang khas. Ia memiliki kekuatan di bidang militer dan politik untuk melawan musuh-musuhnya dan mempertahankan kekuasannya. Ketika Ibn Ya’qub, utusan al-Mu’tadhidh menyerang kota Ronda yang merupakan suku Barbar, Badis merasa tergerak untuk melakukan serangan balik. Akibat penyerangan yang terjadi di kota Ronda, ia berambisi untuk memusnahkan penduduk berkebangsaan Arab atau keturunan Arab di Andalusia.
Badis mengerahkan tentaranya dan berencana melakukan penyerangan di masjid. Meski ia telah diperingati oleh Yusuf bin Ismail bin Naghronah, salah satu menteri di pemerintahannya yang beragama Yahudi namun tidak digubris. Penyerangan tetap terjadi tetapi Allah telah menggagalkannya dan Yusuf telah memperingatkan para perempuan untuk tidak datang ke masjid. Konflik yang memuncak ini terjadi bukan hanya perebutan wilayah kekuasaan, tetapi juga akibat sikap rasis dari masing-masing kelompok, yaitu bangsa Arab dan Barbar.
Untukmu...
Untukmu... Hati kita buatan Tuhan, bukan buatan Taiwan. Bisa rusak berulang kali, dan bisa betul berulang kali tanpa perlu dibaw...
-
"Penyelamat" Dinegeri Wakanda Pria tua itu berdiri tegak di hadapanku dan memanggil namaku, "Madi" dari keja...
-
Dua Pagi Dua pagi dilembah kobrogatso, kabut tebal menyelimuti angkasa, burung-burung berkicau diwaktu pagi, air sungai mengalir...
