Selasa, 27 Oktober 2020

Islamophobia dan pancasilais (Spesial Hari Sumpah Pemuda)

Islamophobia dan pancasilais 
****************============**********

20 oktober 2020, bertepatan dengan hari sumpah pemuda saya sengaja buka medsos dan mendapati video yang beredar di medsos pertengkaran antara anak bangsa terkait cadar Islam Radikal dan Nasionalis.  Miris!! Sangat miris saya saksikan vidio itu.  Dalam benak saya langsung teringat pada para pahlawan yang telah berjuang mengusir penjajah,  para pemuda yang bersatu dengan bambu runcing tanpa harus membenci satu sama yang lainnya.  

Melihat anak bangsa yang bertengkar karena berbeda pandangan menambah bumbuh perpecahan serta kebencian antar sesama Muslim itu Sendiri.  Pemikiran Islam dalam wawasan kebangsaan Indonesia secara langsung telah melahirkan Negara kesatuan Republik Indonesia.  Ia tidak lahir begitu saja dalam benak para bapak bangsa, melainkan ia telah bersama dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.  Ide kebangsaan lahir,  menyatu,  dan berkembang Bersama Islam.  Kita harus menyadari bahwa Toleransi bukan ucapan semata yang di koar-koar secara luas.  Mengklaim diri paling baik,  paling soleh,  paling pancasilais,  paling NKRI adalah sikap arogansi yang kerap kali justru menimbulkan perpecahan antar anak bangsa.  Islamophobia muncul karena cara pandang yang keliru terhadap Islam. Hal ini telah di ungkapkan di Chanel Youtube Felix Siauw.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana kita bisa memahami  Pancasila dan Islam sebagai Rujukan utama untuk menyadarkan kita bahwa Islam bukan berarti Radikal apalagi anti sama pancasila.  Ada beberapa hal yang perlu di ketahui agar tidak ada lagi Islamophobia adalah sebagai berikut.  

Pertama:
Bahwa Nilai Moral Islam telah membentuk menjadi Roh yang mengisi Tauhid Pancasila.  Gagasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah lahir dari ruang hampa tanpa makna.  Ia lahir dari suatu konsep Tauhid yang murni Islam memandang Allah sebagai titik awal berangkat,  berkreasi membangun bangsa.  Nilai Tauhid itu menjadi Roh utama yang membentuk sila-sila selanjutnya dalam falsafah pancasila.  Fondasi Tahid yang menjadi dasar bangunan Islam telah pula diletakkan oleh para bapak bangsa sebagai Fondasi kukuh sebuah Rumah bernama Indonesia.  Sebagai Generasi milenial sudah seharusnya kita cerdas melihat persoalan bangsa, bukan malah di suruh adu jotos yang justru merugikan diri kita,  agama kita,  dan banga kita.  Ayo sadar pemuda.  Bangun dari tidur panjangmu.  Lihatlah orang-orang di sampingmu yang membutuhkan tenagamu,  pikiranmu,  dan juga aksi-aksimu yang nyata.  Masih ingatkah pesan Bapak bangsa kita?  Ir. Soekarno.  Beliau pernah mengatakan bahwa "perjuangan saya mudah karena mengusir penjajah,  sedangkan perjuanganmu jauh lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri". Terbukti hari ini hal itu terjadi.  

Kedua:
Bahwa wacana Keislaman dengan Tauhid sebagai Fondasi berbangsa melalui pancasila dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami pasang surut.  Banyak pihak yang berupaya memisahkan bahkan membenturkan nilai-nilai Tauhid dengan pancasila,  dengan kata lain Islam Vs Pancasila.  Islam di sisi lain berhadapan dengan pancasila di sisi lain berhadapan untuk siap saling menerkam dan menikam.  Untuk itu perlu kembali kita mendudukkannya pada proporsi relasi yang sesungguhnya untuk melihat relasi konstruktif Islam dalam falsafah Pancasila.  

Gagasana Keislaman dan kebangsaan dalam benak pemikiran berbangsa dan bernegara telah menyelimuti para bapak bangsa pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.  HOS Tjokroaminoto, Soekarno,  Mohammad Hata,  M. Natsir,  Sjafruddin Prawiranegara,  Buya Hamka,  dan lainnya banyak mengadopsi nilai-nilai luhur Islam dalam membentuk alam berpikir guna membangun suatu gagasan Falsafah Luhur pancasila.  Penjajahan tidak saja berkait dengan penindasan fisik semata tetapi bertentangan dengan falsafah cita Islam.  Kesadaran akan arti penting berislam menjadi bahan bakar penggerak bagi pejuang untuk memerdekan bangsa ini.   Sudah saatnya kita sebagai pemuda perlu mengenal sejarah perjuangan,  wawasan kebangsaan,  dan bagaimana kita bisa mengimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.  Perbaharuilah semangatmu kawan,  genggamlah tanganku,  kuatkan tekadmu,  kita berjuang bersama,  berkarya bersama,  tanpa fanatik,  tanpa harus anti terhadap agama apapun,  golongan apapun,  dan Ras apapun. 

NegarawanMuda

Oleh
Ismail weripang




Minggu, 11 Oktober 2020

Idealisme Mahasiswa

Idealisme Mahasiswa
**********************
Menjaga marwah idealisme Mahasiwa yang turun kejalan melakukan aksi demonstrasi beberapa hari terakhir memang menjadi viral.  Kita harus maklum, ketika ada yang menganggap kehidupan mahasiswa di kampus-kampus perguruan tinggi mengakibatkan terelenasi didalam menara gading atau sangkar filsuf tidak berkooptasi atau terafiliasi oleh elit kekuatan politik.  Itu mungkin benar.  Apalagi terkait uu omnibus law yang sorot akan kepentingan kapitalis.  Tapi justru karena itulah mereka merasa dekat dengan rakyat, dan senantiasa menyeru untuk mengingatkan pentingnya moralitas yang bersumber dari kepentingan rakyat.  Merekalah satu-satu kekuatan kalau mau dibilang secara konsisten berada di depan  rakyat dalam segala kondisi dan mampu berhadapan dengan arogansi kekuasaan. Suatu kekuatan moral yang ironisnya berbanding terbalik dengan partai politik yang seringkali plin-plan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. 
mahasiswa memiliki banyak potensi untuk mengawal aspirasi rakyat dan berani kritis tanpa beban kepada penguasa.  Hal ini dibuktikan berdasarkan sejarah panjang beradaban bangsa Indonesia.  Reformasi 1998 merupakan bukti bahwa mahasiswa adalah aktor-aktor utama di balik runtuhnya Rezim Otoriter yang di pimpin oleh Soeharto.  Maka tak heran mereka berani berhadapan langsung dengan aparat TNI-POLRI walaupun nyawa adalah taruhannya.  Praduga bahwa,  dalam kalangan kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa lebel-lebel amarah, sebenarnya harus di imbangi oleh kenyataan pula, bahwa dalam golongan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan masa damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama di dorong oleh aspirasi-aspirasi murni   dan semangat yang ikhlas.  Golongan ini bukan saja haus edukasi,  akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu,  sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan caranya yang khas.  Tidaklah keliru kalau mereka menjadi tumpuan kepentingan rakyat yang terabaikan oleh sistem kekuasaan. Karena mereka di anggap mempunyai tiga fungsi: belajar,  aksi sosio-kultur dan perjuangan politik.  Oleh sebab itu,  tak heran mereka terus aktif dalam berbagai bidang.  Tak terkecuali perjuangan aspirasi buruh dan rakyat terkait uu omnibus law yang lagi hangat di perbincangkan ditengah publik.  

Oleh
Ismail weripang

Jayapura,  11 oktober 2020

Selasa, 06 Oktober 2020

OMNIBUS LAW CIPTAKER DAN MATINYA DEMOKRASI

Omnibus Law Ciptaker Dan Matinya Demokrasi
----------------------------------------------------------
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), senin (5/10/2020), telah mengetok palu tanda di sahkan Omnibus Law RUU cipta kerja menjadi undang-undang.  Pengesahan tersebut banyak mendapat penolakan dari berbagai kalangan masyarakat seperti buruh,  tani,  nelayan, mahasiswa dan warga net atau yang biasa di sapa netizen juga ikut menolak Omnibus law ciptaker.  Publik bertanya-tanya mengapa pemerintah dan juga DPR Terburu-buru mengesahkan UU omnibus law ciptaker tersebut.  Ada apa?  Mengapa terburu-buru?   Padahal ada masalah yang lebih urgen yang seharusnya di selesaikan oleh Dpr dan juga pemerintah. Masalah yang urgen dan paling penting  seperti Pandemi Covid-19 yang berjalan kurang lebih Tujuh bulan dan terus bertambah angka yang positif di Indonesia justru diabaikan begitu saja. Alhasil dengan terus bertambahnya kasus positif covid-19 di indonesia justru menambah beban ekonomi bangsa.  dengan di sahkan undang-undan ciptaker ini justru menimbulakan berbagai gejolak masa yang turun ke jalan terutama Buruh,  Tani,  nelayan dan juga mahasiswa.  Kemungkinan untuk memperhatikan protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh pemerintah justru  akan di abaikan dengan aksi masa yang turun ke jalan.  

Disisi lain,  langkah senyap Dpr dan pemerintah dalam memuluskan omnibus law Rancanagan undang-undang (RUU)  cipta kerja akhirnya terwujud.  Adapun poin-poin yang di anggap kontroversial dalam Undang-undang omnibus law yang menjadi sorotan publik antara lain seperti penghapusan upah minimum,  jam lembur yang lebih lama,  kontrak seumur hidup dan rentan PHK, pemotongan waktu istirahat,  dan mempermudah perekrutan TKA.  Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi pengusaha dan sebaliknya sangat merugikan bagi para buruh.  Selain itu potensi konflik agraria dan/  SDA lingkungan hidup juga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat.  Terutama masyarakat adat.  Mengingat selama 5 Tahun terakhir ada sekitar 1.298 kasus kriminalisasi terhadap rakyat akibat mempertahankan hak atas tanah dan wilayah hidupnya.  Misalnya perubahan undang-undang UU P3H (Pasal 82, 83 dan 84, yang ada didalam pasal 38 UU cipta kerja)  soal ancaman pidana kepada orang-perorangan yang di tuduh melakukam penebangan pohon, memanfaatkan hasil hutan tanpa perizinan dari pejabat berwenang di kawasan hutan tersebut.  Hal ini sungguh miris jika mau di lihat dari kacamata kita sebagai orang asli papua yang hidupnya sehari-hari bergantungan dengan alam seperti berkebun,  berternak,  dan juga mencari kayu bakar di hutan.  Dengan di sahkan undang-undang cipta kerja ini tentu sangat mempermulus langkah korporasi untuk eksploitasi hasil alam secara besar-besaran.  Tentu yang rugi bukan hanya buruh saja,  Tapi kita semua yang merasa anak bangsa bagian dari NKRI sangat di Rugikan.  Disisi lain omnibus law cipta kerja ini justru sangat mengungkan bagi pengusaha dan juga penguasa.  
Dengan demikian Demokrasi yang kita kenal dari rakyat,  oleh rakyat dan untuk rakyat hanya menjadi slogan semata.  Justru sebaliknya dari penguasa,  oleh penguasa dan untuk penguasa.  Maka matinya sebuah sistem yang demokratis justru di lakukan oleh penguasa kita sendiri.  Terutama wakil rakyat kita yang menjalin hubungan cinta segitiga antara penguasa dan kapitalis. Justru wakil rakyat kitalah yang selama ini kita percaya untuk menyambung lidah rakyat justru memilih berselingkuh dengan penguasa dan kapitalis.  Kedaulatan tertinggi di tangan rakyat justru di khianati oleh wakil kita sendiri.  Maka matinya suatu sistem yang demokratis justru di lakukan oleh penguasa Dan Dpr.  Semoga saja upaya yang di lakukan oleh kaum buruh, tani,  nelayan dan mahasiswa yang turun ke jalan tidak sia-sia dan dapat di dengarkan aspirasinya oleh penguasa.  Rezim ini sudah seharusnya tidak bersikap bodoh amat dalam manampung setiap aspirasi yang disampaikan oleh rakyatnya agar tidak terjadi korban jiwa akibat aksi masa yang turun ke jalan. Kemungkinan Timbulnya tindakan-tindakan anarkis justru menambah daftar panjang persoalan bangsa ini.  Pemerintah sudah seharusnya menjadi pendengar yang baik agar rakyat bisa percaya bahwa bangsa ini masih punya pemimpin dan juga wakilnya.  Untuk mengantisipasi konflik Horizontal dan Vertikal dimasa yang akan datang tentu harus kita benahi sistem sejak dini.  Terutama wakil-wakil rakyat kita yang justru saat ini berkhianat dari rakyatnya sendiri.  

Oleh
Ismail weripang

Kamis, 24 September 2020

Radikal muncul karena aspirasi diabaikan

Radikal muncul karena aspirasi diabaikan
*///////////////////////////////////////////////////////////*

Tahukah anda apa itu radikal?  Mengapa kata ini sering di pakai dalam setiap isu terkini terkait dengan isu-isu pemahaman tertentu atau golongan tertentu?  Apakah radikal sekejam itu?  Mari kita simak ulasan berikut ini :

Secara etimologis, kata radikal sesungguhnya netral. Radikalis, kata sifat ini berasal dari bahasa Latin, radix atau radici. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), istilah radikal berarti ‘akar’, ‘sumber’, atau ‘asal-mula’. Dimaknai lebih luas, istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala, atau juga bisa bermakna “tidak biasanya” (unconventional). Namun sering kali istilah radikal sering di kaitkan dengan Terorisme,  Penganiyan,  Anarkis bahkan di tujukan pada kelempok-kelompok tertentu.  

Masih ingatkah anda dengan pernyataan Menteri Agama terkait paham Radikal? Di Dalam ajaran agama islam, yang benar tetap benar dan salah tetap salah.  Salah satu pokok fundamental dari paham yang Haq dan batil inilah muncul istilah radikal.  Padahal,  jika kita telusuri setiap kebijakan negara memang jauh dari harapan masyarakat.  Ketidakadilan,  kemiskinan,  Resesi ekonomi,  krisis kepercayaan terhadap pemerintah merupakan akar persoalan di Negara ini.  

Banyak PHK di masa pandemi dan sulitnya mencari kerja juga salah satu faktor utama mengapa paham Radikal ini muncul.  Namun,  radikal tetaplah radikal.  Tindakana anarkis,  teror,  dan berbagai kejahatan lain disana pasti muncul karena dasar pemahamannya bersifat fundamental atau mendasar.  Sedangkan Islam  Tidak seperti yang anda bayangkan,  Islam mengajarkan bahwa setiap umatnya untuk saling memaafkan, saling kasih sayang,  dan tebarkan Rahmat  Ilahi kepada seluruh penjuru Dunia.  Islam tidak seperti apa yang selama ini anda bayangkan,  tidak pula se ekstrim paham radikalisme.  Jika radikal hanya di kaitkan dengan umat islam saja,  lalu mengapa Para Zionis itu tidak di sebut radikal?  Bukankah mereka yang lebih radikal? Masih ingatkah anda kasus New Zeland seseorang yang tidak di kenal masuk Masjid dan tembak mati Jamaah yang lagi sholat Jumat, lalu di rekam seakan-akan seperti anda bermain game Fre fire.  Dengan senapannya dia berani melakukan hal itu,  belum lagi palestina yang di jajah, bukan kah itu radikal?  Bukan kah itu terorisme?  Bukankah itu penindasan?  Bukankah itu penjajahan?  Mengapa selama ini yang di soroti itu hanya Islam?  Sekan-akan Islam saja yang menganut paham radikal.  Apalagi di bangsa yang kita cintai ini.  

Inilah kekeliruan yang harus di luruskan,  siapapun anda yang membaca tulisan ini saya ingatkan bahwa selama ini kaum muslim selalu di pojokkan.  Di bangsa  yang kita cintai ini misalnya,  di papua terus bergejolak dengan teriakan papua merdeka,  dengan berbagai pelanggaran HAM,  penembakan di area Freeport, Timika,  Nduga,  Jayapura,  Dan beberapa daerah lainnya memkan korban jiwa tiap harinya.  Baik dari pihak TNI-POLRI,  Rakyat sipil sendiri maupun KKB atau (OPM). Jelas disini bahwa pemerintah tidak bijak menyikapi setiap persoalan yang ada. Kebijakannya selalu blunder dan menjadi bahan olok-olokan Netizen.  Partisipasi rakyat untuk percaya kepada pemerintah berkurang karena blunder dari kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat dan selalu menimbulakan perpecahan di antara golongon,  idelogi,  ras dan Agama.  Pemerintah selalu mengabaikan aspirasi dari rakyatnya sendiri,  hutang yang menggunung,  TKA yang masuk berbondong-bondong menambah kekecewaan rakyat terhadap pemerintah.  Hukum yang di anggap seperti sebuah mata pisau yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas.  

Ujung-ujungnya pengalihan isu,  Radikal,  Teroris,  khilafah.  Ustad-ustad dan para Dai serta para ulama di persekusi di berbagai tempat. Pada dasarnya pengalihan isunya dengan menyeret para pelaku dakwah yang berpegang teguh pada yang Haq dan melawan yang Munkar (Batil).  HTI,  FPI Jadi bulan-bulanan isu paham radikal. Padahal tak sadar pemerintah punya persoalan yang mendasar.  Persoalan papua misalnya,  untuk saat ini dunia International menyoroti persoalan papua,  tapi lagi-dan lagi pemerintah selalu bersikap masa bodo. Apakah seperti ini kita bernegara?  Apakah harus demikian?  Kedaulatan negara dan kesejahteraan pada rakyat memang menjadi persoalan saat ini.  
berbagai persoalan itu muncul dan pengalihan isunya sudah bisa di tebak,  FPI,  HTI,  KHILAFAH,  RADIKAL.  Ujung-ujungnya para ulama dan Dai jadi sasaran pengalihan isu oleh buzer Istana.  Seakan-akan persoalan bangsa ini hanya soal khilafah dan Radikal yang selalu di kaitkan dengan umat muslim.  Padahal munculnya perlawanan rakyat terhadap Rezim adalah karena aspirasinya terabaikan dan tidak menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.  Jika memang ada pelaku Radikalisme, Terorisme,  dan berbagai paham yang mengganggu kedaulatan negara maka di sikapi dengan serius tanpa harus mengalihkan isu untuk mengkambing hitamkam kelompok tertentu. Jika terbukti maka prosesnya secara hukum agar tidak ada lagi yang mengobok-obok kedaulatan Negara.  Disinilah peran pemerintah,  Aparat keamanan TNI-POLRI,  dan berbegai instasi penegak hukum untuk menegak hukum seadil-adilnya.  Tidak bisa di pungkiri  Terorisme,  Radikalisme merupakan musuh kita bersama.  Tapi sekali lagi,  tidak bisa hanya di kaitkan dengan kelompok tertentu atau agama apapun.  Islam,  kristen,  katolik,  Hindu budha sudah hidup berdampingan sejak dahulu.  Saya yakin,  tidak ada satupun dari ajaran agama yang mengajarkan kebencian,  saling membunuh,  dan sikap yang intoleran.  Apapun agamanya.  Jika ada yang bertindak di luar nilai-nilai keagamaan maka pelaku tersebut hanya oknum. Jika terbentuk secara kelompok maka dia tidak bisa di kaitkan dengan kelomok atau agama tertentu. Mereka yang keluar dari Nilai-Nilai KeTuhanan Adalah sebuah kelompok yang punya paham Radikal atau terorisme. Apalagi yang berkedok agama,  bisa saja mengatas namakan agama tertentu untuk menjalankan visi busuknya.  Inilah musuh kita bersama.  Bukan Islam,  bukan Kristen,  bukan Katolik,  bukan Hindu,  bukan pula Budha.  Kita harus cerdas dalam melihat berbagai persoalan baik di dalam maupun luar negeri. Toh Bhineka Tunggal ika masih terpampang rapi di dinding Rumah  menjadi cerminan buat diri kita masing masing untuk menuju ketahanan Nasional.   pemerintah jngan hanya membabgun narasi yang memecah belah perstuan. jangan yang kritis di balas  radikalis. Merawat kesatuan dan persatuan bangsa itu penting.  Pemerintah punya banyak pr yang harus di selesaikan.  Untukmu MENANG,  ada banyak hal mendasar di Tubuh kemenrtian Agama yang harus di selesaikan.  Jangan tebar narasi yang menimbulakan kontroversi di tengah masyarakat dan berpotensi retaknya nilai-nilai persatuan sebagai bangsa Yang Berdaulat.  

Oleh 
Ismail weripang



Senin, 07 September 2020

KONTRIBUSIKU UNTUK TANAH PAPUA

"Trauma Heling di kampung Ayapo Pasca Banjir Bandang di sentani Tahun 2019"
KAMMI (KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA)
###############################

Peristiwa Banjir bandang di Sentani 16 Maret 2019, merupakan tragedi memilukan bagi warga kabupaten jayapura dan sekitarnya.  Sekitar 200 orang meninggal dunia dan sebagian lainnya  di nyatakan hilang akibat terbawa arus banjir.  Kurang lebih 1000 orang warga sentani  memilih mengungsi ke tenpat yang lebih tinggi. Para relawan, ormas,   TNI-POLRI,  dan juga Basarnas terjun langsung ke lokasi bencana untuk saling bahu-membahu mencari korban yang hilang. serta yang luka-luka maupun yang meninggal dunia langusng di larikan ke RSUD Yowari,  RSUD Dian Harapan,  dan juga puskesmas yang terdekat.  Selain itu para relawan yang bekerja sama dengan pemerintah kabupaten jayapura mendirikan posko-posko pengungsian.

 akibat dari banjir bandang ini berdampak langsung pada Naiknya air danau. Masyarakat yang tinggalnya di dekat danau terpaksa memilih mengungsi ke posko pengungsuian akibat rumahnya terendam banjir.  

Pada tanggal 30 maret 2019 teman-teman dari KAMMI membentuk Tim relawan kemanusiaan dan saya juga salah satu di antaranya yang ikut Serta dalam kegiatan kemanusian tersebut.TIM dari  KAMMI pun rapat, kemudian hasil rapat  tersebut membentuk kesepakatan bersama, kami pun ingin mengadakan "Trauma Heling" Dan juga membantu BAMA (Bahan Makanan)  seperti Mie instan,  gula,  beras, telur dan juga pakaian layak pake seperti Baju,  celana,    bantal,  tikar dll.  

Target TIM relawan tentu kepada dua kampung yang terdampak langusng di tengah danau sentani seperti kampung Alepo dan juga ayapo.  Untuk menuju ke sana tim harus bersedia menyewa longboat, kemudian menyeberang melalui danau Sentani. Perjalanan itu kurang lebih memakan waktu 15 menit untuk sampe kesana.  
Sesampainya di dua kampung tersebut, kami pun terkejut karena rumah warga terendam air dan mereka memilih mengungsi ke gereja yang posisinya lebih tinggi dari rumah warga yang berada di dekat  danau.  Anak-anak yang masih kecilpun harus terpaksa merasakan bagaimana peristiwa kelam tersebut yang baru terjadi sepanjang sejarah di kabupaten jayapura.  Mereka terpaksa tidak bisa sekolah karena sekolah mereka terendam air luapan  banjir.  Trauma sudah pasti dirasakan oleh anak-anak dan juga warga dua kampung tersebut. 

Maka, kami pun datang dengan penuh antusias ingin membantu sekaligus memberikan semangat kepada anak-anak agar mereka bisa tetap belajar walaupun dalam kondisi yang terbatas.

Bermain dan tertawa bersama mereka adalah suatu kebahagian tersendiri bagi saya dan juga teman-teman pada saat itu. Tak lupa pula kami membawa buku tulis dan juga bulpen untuk mereka agar  mau belajar. setelah itu kami  tanyakan bagaimana  keadaan mereka,  apa cita-citanya,  dan juga berbagai Game lain kami berikan untuk menghibur mereka seperti Bernyanyi,  bermain,  Mop,  dan juga memberikan semangat untuk mereka agar tetap kuat melewati cobaan ini. Senyum-senyum polos dari mereka membuka hati dan juga pikiran saya. Saya merasa senang bisa berada di tengah-tengah mereka. 
Dari sini saya belajar,  bahwa hidup ini kita tidak sendiri.  Melainkan ada orang-orang di sekeliling kita yang juga membutuhkan uluran tangan kita,  membutuhkan bantuan kita,  dan juga saling tolong-menolong dalam kebaikan.  Masusia adalah makhluk sosial.  Maka sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.  Saya pernah membaca salah satu kutipan dari Bung karno,  dia pernah mengatakan seperti ini : jangan tanyakan apa yang Negara berikan untuk kamu tapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan untuk negara.  

Ayo.. 
Saya mengajak kepada teman-teman semua untuk selalu berkarya dan juga berkontribusi untuk Negeri.  inilah kisahku,  inilah kontribusiku untuk papua, untuk korban bencana banjir. Untukmu sahabat muda,  yuk kurangi rebahan dan mari sama-sama kita berikan perubahan. 
 

Hormat saya
ISMAIL WERIPANG

Rabu, 02 September 2020

(Filosofi Kebangsaan) Ruh permainan kolektif sepak bola

(Filosofi kebangsaan) Ruh Permainan Kolektif sepak bola 
*************************
"""""""""""""""""""""""""""""""""

Bagaimanapun,  sepak bola adalah permainan kolektif.  Bersinarnya bintang-bintang sepak bola adalah masih dalam koridor kolektifitas.  Jadi,   Lionel Messi menjadi bintang, bukan karena ia sendiri seorang bintang,  tapi Messi menjadi bintang karena sepuluh orang lainnya dilapangan hijau yang mendukung kebintangannya.  

Saat ini mungkin sudah habis masanya,  usianya yang menua kemudian rekan-rekan setimnya yang dulunya bersama dengannya kini telah gantung sepatu dan satu per satu pergi meninggalkan nya.  Kebintangannya di telan usia dan masa.  Namun secara prinsipil,  struktur organisasi sebuah keseblasan tercetak dalam satu potret bersama yang dibingkai oleh adanya skema permainan Tiki-Taka yang terkenal sebagai Formasi.  

Seiring berjalannya waktu, pertukaran manaejemen tim dan staf di kubu blaugrana membuat tim ini kemorosotan dari yang dulunya diera 2009-2015 menjadi tim yang paling di takuti didataran eropa kini di permalukan Tim asal Jerman Bayern Munchen Dengan Skor telak 8-2 di permepat Final UCL 2020.  Berbagai persoalanpun muncul setelah tersingkir di Quatrick perempat Final UCL  2016-2020 Menjadi musim terpuruk setelah di tinggal oleh manajer seperti Pep Guardiola dan luis Enrique.  

Dari sini kita belajar bahwa ikatan yang mempersatukan individu-individu dalam sepak bola dilukiskan sebagai "Ikatan yang meskipun ringan seperti udara, namun sama kuatnya dengan ikatan besi".  Permainan kolektif,  taktik,  strategi bertahan dan menyerang dan skill masing-masing individu serta manejeman Tim yang baik kunci dari keberhasilan Club sepak bola terbaik didunia.  

Filosofi tersebut bisa ditarik masuk ke dalam konteks kebangsaan dan dicelupkan ke dalam diskursus kekinian Indonesia yang tengah terpuruk, setelah melalui Masa mencekik pandemi Covid19. Rasa optimis tentu pasti ada,  di setiap diri individu punya rasa Optimis yang sama. Yaitu ingin melihat gebrakan perubahan besar dalam berbangsa.  Cita-cita dan janji-janji politik adalah harapan yang kemudian di eksekusi oleh kerjasama (Tim) kabinet dalam menyusun program kerja serta mengeksekusi visi dari seorang Presiden Merupakan Kolektifitas dari sebuah (Tim) kabinet Presiden. 
 
Suporter (Rakyat)  tentu menginkan yang terbaik.  Ada pula yang melihat kekurangan dari Tim melancarkan kritik-kritik yang tajam kepada Pemain serta staf manajemen dari tim merupakan bagian dari nyawa berdemokrasi.  Tentu keinginannya juga sama seperti yang lainnya, ingin melihat Indonesia yang Maju dan sejahtera Rakyatnya.  

#Cules
#NegarawanMuda
#PegiatKebangsaan

Rabu, 26 Agustus 2020

Kepada Aktivis Muslim (Khalwah)

Kepada Aktivis Muslim (Khalwah) 
"====================="

Seorang Aktivis harus menyediakan waktu khusus selain waktu qiyamullail,  zikir,  dan tilawahnya untuk berkhalawat, menyendiri.  Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa seseorang yang berakal itu membagi waktunya menjadi empat: salah satunya,  waktu yang ia isi untuk menyendiri dan merenungi diri.  
Bagi para aktivis muslim,  waktu untuk menyendiri ini sangatlah penting.  Di saat ia dapat menyendiri  bersama RabbNya,  penolongNya,  dan penciptaNya.  Dia dapat semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada-Nya.  Dia dapat sungguh-sungguh bersama Dzat yang paling dicintainya.  Pada saat itulah ia dapat merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya.  

Selain itu,  dengan khalawat ini seorang aktivis bisa mengintropeksi diri dan menghitung-hitung semua yang telah dikerjakannya tanpa ada gangguan dari orang yang memujinya.  Dia dapat mengintropeksi  diri sambil menghayati ubudiyyahnya di hadapan penolong dan penciptanya.  Di saat itu pula ia berkesempatan untuk mengingat dosa-dosa,  kemaksiatan,  keteledoran,  dan kealpaan dirinya.  Khususnya kemaksiatan batiniyah yang tidak diketahui oleh orang-orang yang selama ini memujinya.  Kemaksiatan yang hanya di ketahui dirinya sendiri. 

Ketika berkhalawat ini bisa mengucurkan air mata penyesalan dan tobat nasuha,  menangis karena takut,  malu,  cinta,  dan khusyuk kepada Allah Yang Mahasuci.  Semoga saja air mata yang mengalir itu adalah air mata kejujuran yang manfaatnya jauh lebih besar daripada amal yang selama ini dibabggakannya.  

Dia juga dapat memikirkan bahwa respon umat terhadap seruannya bukan karena kefasihannya,  retorikanya,  kekuatan logikanya atau kemampuan hujahnya.  Respon itu berkat dari Allah,  kemurahan-Nya dan anugerah-Nya secara mutlak. Demikian seterusnya,  ia dapat menghitung banyak nikmat dalam khalawat itu sehingga ia tidak lupa mengingat bahwa Allah telah mencegah musuh darinya dan dari saudara-saudaranya.  Jumlah mereka banyak dan kekuatan mereka besar.  
Selanjutnya, ia akan bertekad untuk bertobat dari dosa-dosa itu,  menambal lubang,  memperbaiki aib diri,  atau bertekad untuk yang semisal dengan itu jika kemaksiatan dilakukan oleh saudaranya. "Datangnya musibah hanyalah karena dosa dan baru di angkat karena tobat, " Demikian menurut sebagian salaf.  
Akhir dari tulisan kecil ini, saya yakin keluasan pemahaman dan kemampuan akal anda semua akan menuntun anda dalam mengetahui semuanya. Semua yang belum saya sebutkan di sini.  

#KepadaAktivisMuslim

Rabu, 19 Agustus 2020

Tuntaskan Persoalan Papua berdasarkan perjalanan Sejarah politik Rakyat papua.

Tuntaskan Persoalan Papua berdasarkan perjalanan  Sejarah Politik Rakyat Papua
================================

Apa yang ada dibenak anda jika berbicara tentang Papua?  Konflik KKSB Vs TNI-POLRI?  Atau ketidakadilan,  pelanggaran Ham, Rasisme,  Demonstrasi yang Anarki?  Dan kemudian anda bingung Sebenarnya persoalan Papua ini Apa sih?  Oke...mari kita kupas secara tuntas bersama-sama.  

Saya sendiri mengikuti perkembangan isu papua,  mulai dari isu Ham,  Otsus,  ketikadilan sampe terakhir kemarin tanggal 15 agustus 2020 aksi demonstrasi Menuntut dan memperingati (New York Agreement)  di sentani dan kota Jayapura.  Jika anda bertanya kepada saya,  pilih merdeka atau tetap indonesia?  Maka jawaban saya jelas bahwa saya memilih indonesia. Ini komitmen saya,  berdasarkan sejarah dan perjuangan leluhur saya dahulu.  Kakek saya mantan pejuang merah putih,  mereka dahulu menentang kolonialisme Belanda.  Tapi akhir akhir ini sejarah ini berusaha di perlintir.  Oke mari kita kupas tuntas... 

SEJARAH POLITIK
   pelanggaran Ham terbesar yang dilakukan Pemerintah Indonesia dan juga belanda pada awal polemik status politik papua (Irian Jaya) adalah saat-saat terjadi perundingan (New York Agreement), 15 agustus 1962. Kedua pemerintahan tidak melibatkan secara aktif rakyat papua melalui wakilnya untuk duduk bersama-sama dalam satu meja perundingan.  Rakyat papua pada saat itu hanya sebagai obyek bukan subyek dari perundingan New York itu.  Padahal setidaknya adanya perwakilan dari rakyat papua yang harus duduk bersama dalam perundingan tersebut.  Hak untuk duduk bersama pada meja perundingan bagi rakyat papua pada saat itu telah di abaikan oleh pemerintah Indonesia dan juga belanda.  Inilah awal mula pelanggaran Ham Papua dibidang politik untuk menentukan masa depan mereka sendiri.  Persetujuan New  York Agreement 1962 menyatakan bahwa rakyat papua di beri wewenang untuk menentukan Nasibnya sendiri lewat Plebisit Atau Referendum. Hal ini tidak lepas dari campur tangan belanda yang ingin menjadikan Papua sebagai Negara yang berdaulat.  

Plebisit merupakan konsensus Indonesia dan belanda dalam New York Agreement 1962, atau yang dikenal dengan penentuan pendapat Rakyat atau (PEPERA)   pada tahun 1969 dibawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). pasal 18 perjanjian itu menyatakan bahwa pelaksanaan plebisit atau penentuan nasib sendiri rakyat papua dilaksanakan dengan prinsip one man one vote,  atau satu orang satu suara.  

Dari sekitar kurang lebih  8000 Rakyat papua saat itu hanya di pilih keterwakilan sekitar 2125 Orang yang berhak ikut Pepera. Itupun di ambil dari tua tua adat atau Ondo afi dari setiap daerah. Lagi-lagi..  Disinilah blunder terjadi,  awalnya yang seharusnya one man one vote di ganti dengan perwakilan dari setiap wilayah/daerah adat.  Ini merupakan kesalahan fatal dalam sistem demokratis yang telah di sepakati bersama antara Indonesia dan belanda.  Oleh sebab itu,  hingga saat ini suara dengung Referendum upang terus di dengungkan akibat kesalahan fatal yang tidak melibatkan hak-hak dasar Rakyat Papua.  Pro-kontra masalah papua terus bergelora,  1 Desember 1961 di sebut-sebut sebagai hari jadi bangsa papua.  Tentu hal ini tidak lepas dari campur tangan belanda yang ingin melihat papua berdiri sebagai bangsa yang berdaulat.  Hasil PEPERA pun tidak dianggap sebagai keterlibatan dari rakyat papua secara utuh.  Belanda terus mempropaganda papua dengan Indonesia dengan politik pecah belahnya sebagai berikut:  19 Oktober 1961, Belanda segerah membentuk Negara Papua Barat, Kongres Pertama Niuew Guinea Raad (NGR) pada 19 Oktober 1961.  Dalam sidang pertamanya merubah Status Nederland Niuew Guinea menjadi Papua Barat (West Papua)  dengan memiliki atribut kenegaraan.Komite Nasional yang diketuai oleh Mr. De. Rijke, melakukan pertemuan. Pertemuan tersebut mengesahkan Bendera Bintang Kejora, lagu Hai Tanahku, sebagai symbol kebangsaan, “orang Papua” sebagai Sebutan Rakyat, dan  “Papua Barat” Sebagai sebagai sebutan negeri. Komite Nasional didirikan oleh orang-orang Papua Pro Belanda Sebagai Respon atas Rencana Perdana Menteri Belanda, Joseph Luns

27 September 1961, Perdana Menteri Belanda, Joseph Luns, mengajukan ke Majelis Umum PBB tentang adanya juridiksi internasional mengembalikan Irian Iarat dan menyiapkan penduduknya untuk melakukan semacam Pepera.

1 Desember 1961, Pemerintah Belanda mulai didesak oleh Bangsa Papua untuk segera menaikkan Bendera Nasional Papoea Barat dan menyanyikan lagu Kebangsaan Papua di seluruh wilayah tanahPapua. Akhirnya desakan itu diterima oleh Gubernur Pemerintahan Nederland Niuew Guinea dan Pemerintah Kerajaan Nederland sehingga mulai dinaikan serempat di seluruh Tanah Papua tanggal 1 Desember 1961.

19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan Komando Pembebasan (ANEKSASI) TRI KOMNDO RAKYAT (TRIKORA) yakni: Gagakan Negara Boneka Papua Buatan Kolonial Belanda; Kibarkan bendera sang saka merah putih di seluruh Irian Barat; Bersiaplah untuk moblisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

19 Desember 1961, Mulai Ekspansi Militer Indonesia Untuk Merebut Papua Dari Tanggan Belanda dan Membubarkan Negara Papua Barat yang telah disiapkan Oleh Belanda (merebut Kekuasaan) dari tahun  19 Desember 1961-15 Agustus 1962.

2 Januari 1962, Lewat Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Mandala, maka mulai melakukan infiltrasi ke Papua lewat laut dan udara, kemudian kontak tembak antara Tentara Pendudukan Belanda dengan para penyerbu yang terdiri dari  Militer dan sukarelawan Indonesia yang bergabung dalam komando Mandala Pembebasan Irian Barat.

Dengan demikian sampe detik ini sejarah ini belum di tuntaskan secara serius oleh pemerintah indonesia.  Sehingga tak heran jika sampe hari ini gejolak suara merdeka terus di suarakan,  karena memang problem masa lalu yang belum dituntaskan secara baik oleh pemerintah indonesia.  Secara sosial-politik memang papua memiliki latar belakang sejarah yang berbeda dengan berbagai daerah yang lain di Nusantara.  Tapi yang perlu di Garis bawahi adalah,  di balik rakyat papua yang pro kemerdekaan ada sebagian rakyat papua yang ingin memperjuangkan haknya untuk hidup berdampingan satu kesatuan dari ikatan NKRI.  jauh sebelum adanya bintang fajar, Frans Kaisepo salah satu tokoh papua yang menentang kolonialisme belanda di atas tanah papua.  Bukan hanya Frans,  ada banyak tokoh-tokoh papua yang memperjuangkan haknya bersama para pejuang merah putih.oleh sebab itu sengaja ingin di hilangkan dari sejarah peradaban rakyat papua tentang bagaimana kontribusi rakyat papua yang ingin bergabung dengan NKRI.  Tidak usah jauh jauh,  saya ambil contoh para pejuang yang menentang belanda adalah almarhum kakek saya sendiri,  beliau menentang kolonial belanda dengan membentuk gerakan perlawanan bersama para pejuang lain untuk tidak ingin hidup bersama di bawah tekanan  kolonial belanda.  Hal ini saya dapatkan bukan tanpa alasan,  berdasrkan cerita-cerita sejarah yang saya alami sendiri, bahkan di belakang rumah kakek bendera merah putih sepanjang 2 meter di simpan dengan rapi dan ditanamkan dalm tanah.  Penyimpanan bendera ini bukan tanpa alasan,  akibat dari intimidasi kolonilal belanda maka sang saka merah putih di sembunyikan dengan rapi di dalam peti. beliau takut belanda membakar atribut kemerdekaan indonesia. sehingga mengubur dalam-dalam sang saka merah putih dengan peti.   Hal ini membuktikan  bahwa jiwa nasionalisme masyarakat fakfak memang sangat cinta pada NKRI.  tapi di balik itu semua,  ada juga sebagian yang ingin merdeka dan ingin berdiri sendiri sebagai bangsa yang berdaulat.  Semua itu berawal dari sejarah masa lalu yang belum tuntas hingga saat ini. 


Somoga sedikit tulisan di atas memberikan sedikit gambaran dan pemahaman pada kita mengenai persoalan papua.  Kritik, saran dan masukkan sangat di butuhkan.  Semoga bermanfaat...  


Oleh

Ismail Weripang



Kamis, 06 Agustus 2020

Revitalisasi wawasan kebangsaan

Revitalisasi Wawasan Kebangsaan
«""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

     Sekali lagi harus ditegaskan: dari berbagai peristiwa sejarah yang telah merekontruksi wajah republik tercinta ini,  telah menempatkan wawasan kebangsaan pada posisi sentral dalam kehidupan politik bangsa Indonesia. Sebagaimana yang senantiasa terprasastikan secara formal,  wawasan kebangsaan mencapai titik kulminasinya pada saat wawasan tersebut terintegrasikan sebagai unsur fundamental dari suatu philosofiche grondslag sebuah nationstate yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
         Dan sekarang ini, ada pekerjaan besar bagi bangsa ini untuk kembali meratakan jalan bagi revitalisasi wawasan kebangsaan untuk sekali lagi berkesempatan mencapai titik kulminasinya dan terintegrasikan secara utuh pada negara ini,  yang kali ini harus bertumpu pada apresiasi rasa berkeadilan.  Harus dikukuhkan bahwa menjawab krisis kebangsaan konsep wawasan kebangsaan bukanlah semacam set back pemikiran,  tapi lebih dari itu adalah pengukuhan kembali bagaimana bangsa Indonesia senantiasa memiliki cara menjawab segenap tantangan yang menyergapnya,  termasuk dalam soal situasi akan jatidirinya sendiri.  


wawasan kebangsaan justru akan menyadarkan warga negara akan pentingnya arti hidup bersama atas dasar persamaan hak dan kewajiban di hadapan hukum,  serta sebagai pembentukan tata pandang yang sehat dan wajar mengenai masa depan.  Justru dalam masa krisis ini, wawasan kebangsaan mempunyai dua sisi mata uang yang sama.  Pertama,  mendukung suatu unikum dalam arti suatu pengelolaan berbagai subunikum dalam suatu rangkaian kerangka kebangsaan.  Kedua,  efektif untuk mengelola suatu bangsa yang besar,  dalam masa setiap unikum dapat mempertahankan keunikannya.  
       Sayangnya, realisasi revitalisasi wawasan kebangsaan dalam rumusan kerakyatan ini amat tergantung pada adanya political will dan keberanian politik dari elit kekuasaan, atau pada titik tertentu hanya  bisa di desakkan oleh gerakan power of the people. Tanpa itu, revitalisasi wawasan kebangsaan tetap saja,  hanya berupa sekumpulan retorika,  yang hanya membuat rakyat melayang-layang di angan-angannya saja.  Disinilah, kebermaknaan terbesar dari proses demokratisasi itu  bersemayam. Karenanya,  wawasan kebangsaan harus diwujudkan menjadi instrumen politik yang berkeadilan.  

Jumat, 26 Juni 2020

"Bung Karno dan Geopolitik Asia Pasifik : Menakar Dinamika Laut China Selatan"

Di antara pemimpin Dunia,  bung karno termasuk pemimpin yang karismatik,  yang mahir menjalin hubungan yang baik dengan para kepala Negara.  Soekarno memahami peta politik dunia sekaligus mampu mengkomunikasikan gagasan-gagasan besarnya kepada para pemimpin Dunia.  Interaksi diplomatik ini sangat penting untuk memahami geopolitik dunia pada perang dingin,  strategi diplomatik yang dilakukan bung karno tentu saja berdampak signifikan bagi marwah Indonesia dalam peta politik Internasional.  Diplomasi bung karno berhasil deklarasi Juanda 1957 hingga keberhasilan UNCLOS 1962. perdana menteri Ali Sastroadmidjojo pada tahun 1956 membentuk komite antar departemen untuk Menyusun RUU tentang perairan Indonesia  Yang kemudian pada Agustus 1957 perdana menteri Djuanda merumuskan Prinsip Negara Kepulauan.
Lanjut.  Posisi Indonesia berada pada jalur perdagangan Dunia,  Maka strategi satu- satunya adalah  Checkpoint yang terpenting di Dunia,  dimana lebih dari 40% dari total perdagangan melalui perairan di Indonesia. Sedangkan 70% perikanan dunia berada di asia pasifik,  30% produk perikanan dipasok dari Indonesia.  Indonesia sebagai negara maritim berpotensi pintu gerbang dan pusat aktivitas ekonomi Maritim dunia serta penyangga kawasan.  Untuk kasus Natuna,  China mengklaim perairan itu adalah wilayah penangkapan ikan tradisional sejak ribuan tahun lalu. Terang saja,  klaim ini di tolak mentah-mentah oleh pemerintah Indonesia. Menurut Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, Wilayah ZEE Indonesia telah ditetapkan oleh hukum internasional yaitu melalui UNCLOS 1982. Oleh sebab itu pada diskusi ini ditekankan dari para Narasumber adalah strategi menghadapi situasi di laut China selatan (LCS)  dan Alternatif Solusi. 

Strategi menghadapi Situasi LCS :
1. gelar Opspadma (RO-SOP/ROE
2. Revitalisasi Kemampuan dukungan
3. Operasi informasi Media
4. Program itbang di LCS
5. bangun laboratorium litbang di Natuna
6. Program Perikanan budidaya dan tangkap ikan dilaut natuna
7. Optimalkan program kerjasama
8. Dorong kerjasama baru yang agresif
9. Program Pertukaran SDM
10. bina hubungan yang baik dengan semua pihak yang terlibat konflik di LCS. 

intensi perang dagang di LCS terus digembor oleh Negara adidaya seperti Amerika serikat, China, Jepang, dan korea tentu sangat Rawan terjadi Konflik di LCS.  Oleh sebab itu, pada diskusi ini para Narasumber memberikan kurang lebih tiga alternatif Solusi. Di antaranya sebagai berikut:
1. Mendorong Implementasi kerjasama regional dalam aspek sosial,  budaya,  dan kemanusiaan dalam bingkai ASEAN Comunity. 
2. Meningkatkan Intensitas komunikasi diplomatik terkait laut China Selatan dalam rangka kerja ASEAN POLITICAL and Security Comunity (APSC) 
3. Menginisiasi dan mengembangkan kerjasama yang aplikatif dalam bentuk riset dan eksplorasi serta eksploitasi sumber daya laut.  

diskusi yang berjalan kurang lebih 3 jam Bersama DPP GMNI Pusat live Via Zoom  menyisahkan banyak wawasan dan ilmu yang di dapat dari para Narasumber. 

Berikut tiga Narasumbernya:

1. Laksdya TNI aan Kurnia. S. Sos.,  M.M (Kepala keamanan laut Republik Indonesia (Bakamla)) 
2. Laksdya TNI Dr.  A Octavian, S.T., M. Sc.,  DESD (Rektor Universitas Pertahanan) 
3. Abdul Azis,  S.H., LL. M (pengamat politik) 



Oleh
Ismail weripang 


Sabtu, 20 Juni 2020

Islam dan Andalusia

Islam dan Andalusia


BincangSyariah.Com – Setelah pertikaian antara pemimpin Badajoz dengan Sevilla mereda akibat diredam oleh pimpinan dari Bani Juhur yang menguasai Cordoba, timbul lagi pertikaian antara Sevilla dengan Granada.

Pertikaian terjadi selain karena ambisi untuk merebut wilayah, juga sikap rasis yang lahir dari konflik kedua belah pihak. Pimpinan Granada dan keturunannya merupakan keturunan suku Barbar. Sedangkan pimpinan Sevilla dan keluarganya merupakan keturunan bangsa Arab asli. Sikap rasis acapkali menimbulkan perasaan paling baik, benar dan ingin menjadi dominan.

Bani Zairi yang memiliki Dinasti di Granada memiliki ambisi untuk menandingi keunggulan Dinasti Bani Abbad di Sevilla selama bertahun-tahun. Bani Abbad memiliki keunggulan di kekuatan militer dan sastra. Sedangkan Bani Zairi unggul dalam bidang militer saja. Bani Abbad selaku keturunan Arab asli selalu memiliki ambisi melawan orang-orang yang berusaha untuk mnyingkirkan suku Barbar, di Andalusia. Akibat ambisinya timbullah peperangan dangan Bani Abbad pemilik Sevilla.

Pertempuran keduanya berawal dari Ibnu Abbad, pimpinan Sevilla yang hendak merebut Cormona, Istiga dan Sodania dari al-Barzali. Al-Barzali lalu mengirim surat kepada Idris al-Mutaayyad al-Hamudy (pimpinan wilayah Malaga) dan suku-suku Sonhajah yang masih bagian dari Suku Barbar. Ia memohon agar Idris mengirim tentara bantuan yang dipimpin oleh Ibn Baqonnah Ahmad bin Musa untuk menyerang pasukan Ibnu Abbad. Begitu juga Badis bin Habus, pemimpin Dinasti Bani Zairi yang berasal dari suku Barbar membantu untuk melawan pasukan Dinasti Bani Abbad yang dipimpin oleh Ismail bin Abbad. Peperangan berakhir dengan terbunuhnya Ismail, kepalanya dipenggal dan diserahkan kepada Idris.

Permusuhan antara Sevilla dengan Granada ditandai dengan persaingan yang sengit dalam pemerintahan terutama perluasan wilayah. Konflik makin meruncing saat al-Mu’tadhid bin Abbad menggantikan ayahnya memimpin Sevilla dengan Badis bin Habus dalam merebut Malaga. Padahal di awal pasukan Bani Zairi membantu pimpinan Cormona bersama tentara pasukan Malaga untuk melawan Sevilla. Kini Bani Zairi juga justru ingin merebut kota Malaga. Pada akhirnya kota Malaga berhasil direbut oleh Bani Zairi di bawah pimpinan Badis bin Habus, sedangkan al-Mu’tadhid mendapatkan wilayah Algeciras (1054 M).

Rupanya penduduk Malaga merasa tidak puas dengan kepemimpinan Badis yang merupakan keturunan suku Barbar. Mereka secara diam-diam mengutus al-Mu’tadhid untuk menaklukkan Malaga dari kepemimpinan Badis. Ini menjadi angin segar bagi al-Mu’tadhid untuk kembali berjuang merebut wilayah Malaga. Namun Badis lebih cepat tanggap dalam menangani kedatangan musuhnya. Terjadi perang di antara kedua pasukan lalu karena pasukan di bawah kepemimpinan Badis lebih kuat, al-Mutamid melarikan diri bersama Ibnu Abbad al-Jabir ke kota  Ronda.

Pada tahun 1069 M al-Mu’tadhid wafat, lalu kepemimpinan diganti al-Mu’tamid, putranya yang bahkan lebih berambisi. Ia hendak meneruskan perjuangan ayahnya untuk merebut kota Malaga. Ia mengirim utusan ke Malaga untuk mengintai kepemimpinan Bani Zairi. Pengintai melaporkan secara berkala tentang keadaan kota Malaga.

Tapi Badis memiliki strategi kepemimpinan yang khas. Ia memiliki kekuatan di bidang militer dan politik untuk melawan musuh-musuhnya dan mempertahankan kekuasannya. Ketika Ibn Ya’qub, utusan al-Mu’tadhidh menyerang kota Ronda yang merupakan suku Barbar, Badis merasa tergerak untuk melakukan serangan balik. Akibat penyerangan yang terjadi di kota Ronda, ia berambisi untuk memusnahkan penduduk berkebangsaan Arab atau keturunan Arab di Andalusia.

Badis mengerahkan tentaranya dan berencana melakukan penyerangan di masjid. Meski ia telah diperingati oleh Yusuf bin Ismail bin Naghronah, salah satu menteri di pemerintahannya yang beragama Yahudi namun tidak digubris. Penyerangan tetap terjadi tetapi Allah telah menggagalkannya dan Yusuf telah memperingatkan para perempuan untuk tidak datang ke masjid. Konflik yang memuncak ini terjadi bukan hanya perebutan wilayah kekuasaan, tetapi juga akibat sikap rasis dari masing-masing kelompok, yaitu bangsa Arab dan Barbar.

Untukmu...

Untukmu... Hati kita buatan Tuhan, bukan buatan Taiwan. Bisa rusak berulang kali, dan bisa betul berulang kali tanpa perlu dibaw...